Pages

Friday, 2 August 2013

Memburu Lailatul Qadar




226241615.jpg
PEMBICARAAN tentang Lailatul Qadar tidak pernah selesai karena unik dan menarik. Lailatul Qadar mengandung dua pengertian. Satu, malam saat turunnya Alquran. Allah SWT, berfirman, “Inna anzalnahu fi lailatil qadri” (Sesungguhnya Aku telah menurunkannya (Alquran) itu pada Lailatul Qadar) Q.S. Al-Qadar: 1.

Lailatul qadri di sini bermakna “Malam yang penuh berkah.” Hal ini jika dihubungkan dengan firman-Nya, “Inna anzalnahu fi lailatin mubarakatain”

(Sesungguhnya Aku telah menurunkannya Alquran pada malam yang penuh berkah). Q.S. Ad-Dukhan:3. “Berkah” berarti kebaikan yang banyak.

Lailatul qadar dalam pengertian ini terjadi pada bulan Ramadan dan terjadi hanya satu kali. Allah berfirman, “Syahru Ramadana alladzi unzila fihi Alquran” (Bulan Ramadan adalah bulan yang padanya diturunkan Alquran) Q.S. Al-Baqarah:185. Tentang tanggalnya masih ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama, sebagian besar ulama menyatakan Lailatul Qadar itu terjadi pada tanggal 17 Ramadan. Hal ini didasarkan pada firman Allah, “In kuntum amantum billahi wa ma anzalna ‘ala ‘abdina yaumal furqan, yaumaltaqal jam’ani” (Jika kamu beriman kepada Allah dan terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan) Q.S. Al-Anfal:41. Yang dimaksud dengan “hari pertemuan dua pasukan” yaitu saat terjadinya Perang Badar, yang diyakini terjadi pada hari Jumat tanggal 17 Ramadan tahun kedua Hijriah.

Sahabat Ibnu Abbas r.a. menjelaskan bahwa Alquran yang diturunkan pada Lailatul qadar pada bulan Ramadan (dari Lauh Mahfudz) ke langit dunia sekaligus atau seluruhnya; baru kemudian secara berangsur diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. (R. At-Thabrani) .

Kedua, Lailatul qadar dalam pengertian sebuah malam penuh berkah yang datang pada setiap bulan Ramadan. Pengertian ini didasarkan kepada hadis yang berbunyi, “Suila Rasulullah saw. ‘an lailatul qadri, Fa qala, hiya fi kulli Ramadana” (Nabi saw. ditanya tentang Lailatul qadar, baliau menjawab, lailatul qadar ada pada setiap bulan Ramadan) H.R. Abu Daud.

Mengenai Lailatul qadar dalam pengertian ini tidak ditemukan keterangan yang menunjukkan tanggal yang pasti. Menurut sahabat Ubadah bin Shamit dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Nabi saw. pada suatu hari ke luar menemui para sahabatnya untuk memberi tahu tentang kapan Lailatul qadar itu adanya, tapi karena ada dua orang sahabat yang malah ribut, maka beliau tidak jadi memberitahukannya, beliau malah akhirnya menganjurkan, “Faltamisuha fit tasi’ati, was-sabta’ati, wal-khamisati” (Carilah olehmu pada tanggal 21 atau 23 atau 25).

Di hadis lain dari Siti Aisyah riwayat Imam Al-Bukhari, Nabi saw. memerintahkan, “Taharrau lailatul qadri fil-witri minal ‘asyril awakhiri min Ramadhana” (Carilah Lailatul qadar itu pada tanggal-tanggal gasal dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan). Menurut riwayat Imam Muslim dijelaskan bahwa Nabi saw. jika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan beliau meningkatkan kegiatannya, menghidupkan malamnya dengan mengurangi tidur dan membangunkan keluarganya. Malah beliau menyunatkan untuk berkitikaf di masjid selama sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan.

Di antara hikmah tidak diberitahukannya tanggal yang pasti tentang Lailatul qadar ini mungkin tidak lepas dari karakteristik ajaran Islam yang memotivasi umatnya untuk rajin bekerja dan beribadah, seperti diperintahkan Allah, “Fa idza faraghta fanshab” (Apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka carilah urusan yang lain) Q.S. Al-Insyirah: 7.

Bisa dibayangkan jika Nabi saw. waktu itu jadi memberitahu tentang tanggal yang pasti datangnya Lailatul qadar itu, mungkin akan terjadi banyak orang yang melaksanakan salat tarawih, tadarus dan sebagainya hanya pada malam itu saja.

Tentang fadilah atau keutamaan dan berkah Lailatul qadar antara lain:

(a) Nabi saw. bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan salat qiyamu Ramadhan (salat tarawih) pada malam Lailatul qadar dengan dasar iman dan mengharap rida Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”. (H.R. Al-Bukhari);

(b) Nabi saw. bersabda, “Apabila datang Lailatul qadar, Malaikat Jibril bersama malaikat lainnya turun ke bumi mendoakan kepada setiap hamba yang berzikir dan berdoa kepada Allah, Allah menyatakan kepada para malaikat bahwa Allah akan memenuhi doanya. Allah berfirman, “Pulanglah kamu sekalian, Aku telah mengampuni dosa kalian dan Aku telah mengganti kejelekan dengan kebaikan”. Maka mereka pulang dan telah mendapatkan ampunan-Nya. (H.R. Al-Baihaqi dari Anas bin Malik)

Kedua hadis itu menunjukkan kepada kita bahwa bagi yang melaksanakan salat tarawih, memperbanyak zikir, doa dan istighfar, bertepatan Lailatul qadar dengan hati yang ikhlas, dengan cara yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. dan dengan khusyuk, insya Allah baginya akan mendapatkan ampunan-Nya. Sesuatu yang senantiasa menjadi harapan dan dambaan setiap insan mukmin. Karena dengan ampunan-Nya itulah seseorang akan mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki dan abadi, yakni kebahagiaan di akhirat kelak.

Tidak diketemukan keterangan yang sahih dan sharikh (jelas) tentang ciri-ciri atau tanda-tanda bahwa malam itu adalah Lailatul qadar, kecuali hadis riwayat Muslim yang menyatakan bahwa jika malam itu adalah Lailatul qadar maka pagi harinya matahari terbit dengan cuaca yang cerah. Artinya baru diketahui setelah Lailatul qadar itu lewat. Hikmah dari dirahasiakannya Lailatul qadar ini antara lain kita didorong dan dimotivasi untuk mengisi malam-malam Ramadan khususnya pada sepuluh hari terakhir dengan berbagai amal saleh seperti, tarawih, tadarus Alquran, doa dan istighfar.

Siti Aisyah pernah bertanya kepada Nabi saw. tentang doa yang bisa dibaca jika bertemu dengan Lailatul qadar, Nabi saw. menyuruhnya untuk membaca, “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’ fu ‘anni” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai sifat pemaaf, maka maafkanlah segala dosa hamba) -H.R. Ahmad-

Kita berhaarap dan memohon ampunan Allah serta bimbingan inayah dan rahmat-Nya semoga kita diberi kekuatan dan kemampuan mengisi bulan Ramadan ini baik siang maupun malamnya dengan berbagai amal ibadah dari awal sampai berakhirnya bulan suci ini, dan dijadikan sebagai wasilah kita diampuni segala kealpaan dan dosa kita.

Amien! Wallahu a’lamu bish-shawwab. ***


sumber dari: jalansekolah20.wordpress.com

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar






Di antara kita mungkin pernah mendengar Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurofat dan keyakinan bathil seputar tanda-tanda lailatul qadar, di antaranya : pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah asin, anjing-anjing tidak menggonggong, dan beberapa tanda yang jelas bathil dan rusak.

Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda di atas sudah jelas kebathilannya karena tidak adanya dalil baik dari al-Quran ataupun hadist yang mendukungnya.

Lalu bagaimanakah tanda datangnya malam Lailatul Qadar yang benar berkenaan dengan malam yang mulia ini? Nabi shallallahu’alaihi wassalam pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar, yaitu:

1. Udara dan suasana pagi yang tenang

Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)

2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya

Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)

3. Terkadang terbawa dalam mimpi

Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum.

4. Bulan nampak separuh bulatan

Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata :
“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)

5. Suasana malam itu terasa sejuk dan nyaman

Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)
Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam :
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)

6. Hati menjadi tenang saat ibadah di malam itu

Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.

Wallahua’lam :)


sumber dari: isdaryanto.com

Sunnah Ramadhan; Amalam Lailatul Qadar






Bersungguh-sungguh pada malam al-Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan:

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Maksudnya: Siapa bangun malam keagungan dengan keimanan dan pengharapan akan diampunkan untuknya dosanya yang terdahulu.
(HR al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab Qiyam Lailah al-Qadr Min al-Iman, No. 34.)

Di malam al-Qadr bacalah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Maksudnya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, sukakan kemaafan, maka maafkanlah aku.
(HR Ibnu Majah. Kitab al-Du‘a, Bab al-Du‘a Bi al-‘Afw Wa al-‘Afiyah, No. 3840. Dihukum Sahih oleh al-Albani dalam Sahih Ibnu Majah, No. 3119)
- Tanda malam al-Qadar:

عَنْ زِرٍّ قَالَ سَمِعْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُ وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا
Maksudnya: Daripada Zirr katanya ‘Aku mendengar Ubay bin Ka‘b berkata apabila dikatakan kepadanya bahawa Abdullah bin Mas‘ud berkata ‘Siapa bangun sepanjang tahun dia akan dapat malam keagungan.’ Ubay berkata ‘Demi Allah yang tiada tuhan yang hak selainnya, malam itu di dalam Ramadhan.’ Beliau bersumpah tanpa pengecualian. ‘Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam manakah ia. Ianya ialah malam yang Nabi s.a.w. perintahkan kami bangun padanya. Ianya ialah malam pagi 27. Tandanya ialah matahari terbit pada paginya putih tanpa cahaya silau.


sumber dari: drfadlanothman.wordpress.com

Peristiwa Sejarah Bulan Ramadhan




Bulan Ramadhan bukan hanya terkenal sebagai pusat latihan ibadah kepada umat Islam, malah ia juga terkenal dengan peristiwa besar dalam sejarah Islam antaranya :

Bulan Diturunkan Al-Kitab

Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan. Bulan yang diturunkan di dalamnya (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk untuk manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pemisah antara yang benar dan salah.

Para pakar tafsir dan hadis merekodkan, Allah juga menurunkan kitab-kitab dan suhuf iaitu kitab-kitab kecil selain Zabur, Taurat, Injil dan Al Quran kepada para rasul terdahulu pada bulan Ramadhan.

Peristiwa Peperangan Badar

Pada hari Jumaat 2 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah berlakunya perang pertama dalam Islam yang dikenali Perang Badar. Badar adalah nama tempat di sebuah lembah yang terletak di antara Madinah dan Mekah. Tentera Islam mengawal lokasi strategik dengan menguasai sumber air yang terdapat di situ.

Perang ini melibatkan tentera Islam seramai 313 anggota berhadapan dengan 1,000 anggota tentera musyrikin Mekah yang lengkap bersenjata. Dalam peperangan ini, tentera Islam memenangi pertempuran dengan 70 tentera musyrikin terbunuh, 70 lagi ditawan manakala bakinya melarikan diri.

Peperangan ini adalah suatu yang luar biasa apabila tentera Islam yang kurang jumlah, lemah daripada sudut kelengkapan dan berpuasa dalam bulan Ramadhan memenangi pertempuran Perang Badar. Ini membuktikan puasa bukan penyebab umat Islam bersikap lemah dan malas sebaliknya berusaha demi mencapai keredhaan Allah. Orang yang berjuang demi mencapai kerdhaan Allah pasti mencapai kemenangan yang dijanjikan. Allah menegaskan dalam Surah Aali ‘Imran ayat 123 hingga 125.

“Sesungguhnya Allah menolong kamu dalam Perang badar, sedangkan pada masa itu kamu orang yang lemah. Sebab itu bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mensyukurinya.”

Kota Mekah
Pembukaan Kota Mekah

Peristiwa ini berlaku pada 10 Ramadhan tahun ke-6 Hijrah. Peristiwa kemuncak ini berlaku apabila musyrikin Mekah melanggar perjanjian Hudaibiah yang termeterai dengan orang islam. Antara kandungan perjanjian ini menyebut, setiap suku Arab boleh memilih sama ada menjadi sekutu Muhammad ataupun sekutu Quraisy. Kedua-dua pihak tidak boleh berperang dalam tempoh 10 tahun dan tidak boleh membantu pihak lain berperang.

Malangnya, dalam suku-suku Arab yang bersekutu itu, ada golongan yang bertelagah iaitu Bani bakar dan Khuza’ah. Bani Bakar bersekutu dengan Quraisy Mekah manakala Khuza’ah memilih bersekutu dengan Nabi Muhammad.

Pada satu malam, Bani Bakar dengan pertolongan Quraisy Mekah menyerang perkampungan suku Khuza’ah di lembah Watir. Apabila berita itu sampai ke pengetahuan Nabi Muhammad, beliau mengerahkan ratusan ribu umat Islam mara ke Mekah tanpa pengetahuan penduduk musyrikin Mekah. Beliau menolak sebarang rundingan dengan pihak Quraisy sehingga kemaraan umat Islam hanya diketahui apapbila hampir memasuki Kota Mekah. Penduduk musyrikin menjadi jumlah yang kecil tanpa sebarang persiapan hanya bersembunyi di bukit, rumah ibadat dan rumah Abu Sufian.

Akhirnya umat Islam memasuki kota Mekah tanpa sebarang pertumpahan darah. Peristiwa ini menggambarkan pertolongan Allah kepada hamba-hamba yang ikhlas kepadaNya. Allah menyebut dalam Al Quran Surah Al Fath ayat 1:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”
Sebahagian pakar tafsir Al Quran memberi maksud ‘kemenangan’ dengan kemenangan bermaksud membuka Mekah.

Perjalanan Nabi Muhammad S.A.W Ke Tabuk

Apabila pengaruh Nabi Muhammad SAW tersebar ke pelosok Semenanjung Tanah Arab, ia memberikan tamparan hebat kepada Rom yang menjadi kuasa besar pada masa itu. Lantas Herkules, Maharaja Rom Timur (Bizantin) memutuskan bagi menyekat pengaruh umat Islam dengan utara Tanah Arab.

Apabila berita itu samapai ke pengetahuan Nabi Muhammad SAW, beliau mengarahkan umat Islam berkumpul bagi menghadapi Rom dan mengutip zakat. Pada masa itu tanah Arab dilanda panas dan kesusahan. Iman umat islam ketika itu benar-benar teruji. namun, mereka tetap taat kepada perintah Nabi Muhammad. Beliau sendiri memimpin tentera seramai 30,000 anggota ke utara Madinah.

Apabila tentera Islam tiba di Tabuk, tentera Rom tidak berada di situ. Sebaliknya Rom menarik diri apabila mengetahui kemaraan tentera Nabi Muhammad SAW yang ramai. Tentera Islam terus mengasak Rom sehingga termeterai perjanjian antara Islam dan Rom. Sebagai persetujuan, Rom tunduk dan bernaung di bawah pemerintahan Nabi Muhammad SAW dan dikenakan cukai sebanyak 3,000 dinar setiap tahun.
Ini antara peristiwa-peristiwa besar yang berlaku dalam bulan Ramadhan. Banyak lagi peristiwa yang berlaku pada bulan Ramadhan yang untuk mengetahuinya memerlukan labih pembacaan buku-buku sejarah atau kitab-kitab sirah. Di bulan yang mulia ini, sama-sama kita meningkatkan amalan kita dengan mengambil semangat dari kisah2 nabi dan para sahabat yang berjuang mempertahankan Islam di dalam keadaan mereka berpuasa, menahan lapar dahaga, tidak lain, semata-mata mencari keredhaan Allah. Semoga Ramadhan kali ini lebih baik dari sebelumnya.



sumber dari: wanfauzi.com

MENCARI LAITATULQADAR






Setahun berlalu
Ramadan kini kembali
Misinya macam biasa

Sebagai penyelamat dan pembersih hati
Bersamanya rahmat dan berkat
Tuhan sekelian alam

Setiap bulan Ramadan
Pasti ada Lailatulqadar
Malam yang didambakan setiap insan
Harap-harap dipertemukan

Kumohon ampunanMu dalam berjuta harap
Kujemput rahmatMu dalam setiap lafaz ayat-ayat suci
Kunanti pahalaMu di setiap hembusan nafasku
Berharap keajaiban Lailatul Qadar datang menghampiri

Jika Lailatul Qadar milikku
Kusujud syukur di hadapan Tuhanku
Menangis memohon kehidupan indah buatku
Agar menjadi hamba Allah yang setia selalu


sumber dari: ayat-ayatcintaaac.blogspot.com

Hikmah Disembunyikan Malam Lailatul Qadr




Lailatul Qadar


1. Ia bertujuan untuk mengagungkan bulan Ramadhan keseluruhannya supaya manusia beribadah kepada Allah S.W.T. bukan memilih kepada malam-malam tertentu. Samalah keadannya apabila Allah S.W.T. menyembunyikan keredhaanNya dalam ketaatan hamba kepadaNya agar hamba tersebut melakukan semua ketaatan demi mendapatkan redha tuhannya.

2. Mengajar manusia supaya bersungguh dalam mengerjakan ibadah kepada Allah S.W.T. dalam malam-malam yang ditempuhi di bulan Ramadhan. Hal ini kerana mereka tidak mengetahui malam Lailatul Qadar yang sebenar, yang seterusnya akan meningkatkan semangat mereka dalam melaksanakan ibadah dalam bulan ini pada setiap malam.

3. Menambah ganjaran disebabkan sikap bersungguh yang ada dalam mendapatkan malam tersebut selain ganjaran ibadah yang dilakukan. Hal ini berbeza dengan ibadah yang dikerjakan tanpa kesungguhan disebabkan telah mengetahui malam manakah berlakunya Lailatul Qadar.

Kelebihannya : Hadis Nabi S.A.W. :

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

(Barangsiapa yang menghidupkan malam Al-Qadr dengan penuh keimanan dan pengharapan, akan diampunkan dosanya yang telah lalu).

Antara Amalan Yang Digalakkan :

1. Berdoa :

اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني

Ertinya : Ya Allah, Engkau yang Maha Pengampun dan Maha Mulia. Engkau sememangnya suka mengampunkan (kesalahan) maka ampunilah aku.

2. I’tikaf pada 10 malam yang terakhir, moga-moga ia akan diperolehi pada salah satu daripadanya.

3. Memperbanyakkan ibadah seperti solat-solat sunat, membaca Al-Quran, berzikir dan sebagainya.

Antara Petanda Malam Lailatul Qadar : Malamnya tenang, tidak panas atau sejuk dan lautan tidak bergelora. Juga suara anjing menyalak tidak kedengaran dan apabila tiba keesokan harinya sinaran matahari kurang memancarkan cahayanya seolah-olah keadaan pagi tersebut seperti berkabus.

*Digalakkan apabila seseorang melihat petanda ini pada pagi keesokan harinya untuk memperbanyakkan doa dan ibadah sepertimana pada malam harinya.



sumber dari: wanfauzi.com

Lailatul Qadar Malam Seribu Bulan




malam Lailatul Qadar


Lailatul Qadar atau Malam Al-Qadr merupakan suatu malam yang dikhususkan kepada umat Nabi Muhammad S.A.W. Sebahagian ulama’ menyebut bahawa ia adalah malam yang berlaku sekali pada setiap Ramadhan sehingga hari kiamat, bukannya hanya sekali ketika zaman wahyu diturunkan.

Diriwayatkan oleh Atha’ daripada Ibnu Abbas r.a. bahawa beliau menceritakan kepada Nabi S.A.W. tentang seorang lelaki Bani Israel yang berjuang di jalan Allah S.W.T. selama seribu bulan. Nabi S.A.W. sangat kagum mendengar khabar tersebut dan baginda berharap agar umatnya diberikan beberapa kelebihan.

Baginda bersabda : “Wahai Tuhan, Engkau telah menjadikan umatku pendek umurnya, dan sedikit amalnya. Maka Allah S.W.T. mengurniakan Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan iaitu tempoh lelaki Bani Israel tersebut yang berjuang di jalan Allah kepadamu dan umatmu sehingga hari kiamat”.

Sebahagian Sejarawan Islam menyebutkan bahawa seorang lelaki pada zaman dahulu tidak dinamakan sebagai ‘abid (orang yang melakukan ibadah) melainkan jika dia beribadah kepada Allah S.W.T. selama seribu bulan. Maka Allah S.W.T. mengurniakan kepada umat Nabi S.A.W malam Lailatul Qadar, apabila mereka menghidupkannya adalah lebih layak digelar sebagai ‘abid berbanding ‘abid pada zaman dahulu.
Pendapat yang paling tepat ialah malam lailatul qadar dikurniakan kepada umat nabi Muhammad S.A.W. sehingga hari kiamat, bukannya sekali sahaja ketika zaman Nabi S.A.W. kerana hadith-hadith shohih menerangkan ia berlaku pada beberapa malam yang berlainan dan ini tidak akan berlaku melainkan tempohnya berterusan sehingga ke hari kiamat.

Kenapa Dinamakan Malam Al-Qadr?

Maksud Al-Qadr dapat diterjemahkan kepada dua makna :

1. Kedudukan yang tinggi seperti apabila kita menyebutkan di dalam bahasa Arab – فلان ذو قدر iaitu “dia seorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi”.

2. Penentuan hukum dan pemberian hak manusia. Hal ini kerana pada malam Lailatul Qadar Allah S.W.T. menurunkan Al-Quran dari Luh Mahfuz ke langit dunia yang di dalamnya terkandung pelbagai hukum dan panduan kehidupan manusia.

Waktu Berlakunya Malam Al-Qadr

Perselisihan para ulama’ kemudiannya tertumpu kepada beberapa perkara :

1. Adakah ia hanya berlaku dalam bulan Ramadhan?

• Kebanyakan mereka mengatakan ia hanya khusus pada bulan Ramadhan berdasarkan firman Allah S.W.T. :

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرءان

Ertinya : Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya Al-Quran.

Firman Allah S.W.T. lagi :

إنا أنزلنه في ليلة القدر

Ertinya : sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Quran) pada malam Al-Qadr.
Maka berdasarkan dua ayat ini, malam Lailatul Qadar adalah malam yang diturunkan padanya Al-Quran.

• Sebahagian Mereka mengatakan ia berlaku bukan sahaja dalam bulan Ramadhan malah turut berlaku dalam bulan-bulan yang lain.

2. Perselisihan seterusnya pada pendapat pertama yang mengatakan ia berlaku dalam bulan Ramadhan : Adakah ia berada pada malam-malam dalam bulan ini atau hanya di 10 malam yang terakhir?

• Sebahagian Ulama’ mengatakan ia berlaku pada malam-malam dalam bulan Ramadhan.


• Kebanyakan Mereka menyebut ia berlegar sekitar sepuluh malam terakhir khususnya pada malam-malam yang ganjil.



sumber dari: wanfauzi.com