Dengan nama ALLAH, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar. [Surah Al-'Asr Ayat 1-3]
Showing posts with label taman tergantung babylon. Show all posts
Showing posts with label taman tergantung babylon. Show all posts
Tuesday, 24 December 2013
di dokumentasikan oleh sejarawan Yunani
Lembaran sejarah paling tua yang mencatat karya arsitektur yang dilengkapi taman sebagai wujud cinta kasih terhadap seseorang yang sangat disayangi adalah di Mesopotamia, Irak purba. Dalam catatan Herodotus, seorang penulis Yunani kuno, disebutkan bahwa saat Raja Nebukadnezar II yang menjadi raja di Kerajaan Babylon baru (605-562 SM), telah memerintahkan untuk membuat taman gantung yang sangat indah, sebagai hadiah kepada Amytis, sang permaisuri yang sangat disayanginya.
Taman gantung merupakan wujud arsitektur pertamanan khas Mesopotamia, yang telah dikenal rakyat Mesopotamia sejak masa pemerintahan Raja Hammurabi di Kerajaan Babylon lama (1792-1750 SM). Di antara bangunan-bangunan kota yang tinggi mencuat di permukaan tanah itulah biasanya ditanami tanaman-tanaman yang indah, sehingga dari kejauhan terlihat seperti taman yang menggantung.
Taman gantung yang dibangun Raja Nebukadnezar II yang puncak kejayaannya sekitar 612 SM, kemudian menjadi sangat terkenal ke seluruh penjuru dunia dan dikagumi rancangannya hingga kini. Taman Gantung Babylon ini kemudian menjadi monumen agung Kerajaan babylon yang tiada duanya. Luas taman ini diperkirakan 4 are (1 acre = 4046.86 m²). Wujud arsitekuralnya sangat unik, karena bertingkat-tingkat. Taman ini ditanami berbagai pepohonan indah dan dilengkapi sistem pengairan hingga ketinggian 100 meter di atas permukaan tanah. Dari puncak taman ini dapat disaksikan pemandangan di sekeliling Kerajaan Babylonia.
sumber dari: sman11mks.com
Etimologi dan Catatan sejarah
Taman Gantung Babilonia (dikenal pula sebagai Taman Tergantung Semiramis) dan tembok-tembok Babylon adalah salah satu di antara Tujuh Keajaiban Dunia Kuno yang terletak di Al-Hillah, 50 kilometer selatan Baghdad, Irak di sebelah tebing timur Sungai Euphrates.
Etimologi
Taman Tergantung sebenarnya tidaklah betul-betul "tergantung" seperti terikat dengan tali. Namanya berasal dari terjemahan kata Yunani Kremastos atau kata Latin pensilis, yang bermaksud bukan hanya "tergantung” tetapi "anjung," seperti terletak di atas berandah atau suatu teras.
Catatan sejarah
Taman ini dibangun oleh Nebukadnezar II, cucu Raja Hammurabi yang terkenal, sekitar tahun 600 SM sebagai hadiah untuk istrinya yang merindukan rumahnya, Amyitis. Amytis merindukan pohon-pohon dan tanaman wanginya di Persia, sedangkan dalam tulisan lain dikatakan bahwa istri Nebukadnezar II bernama Amuhia dan ia berasal dari Nusantara. Taman ini diperkirakan hancur sekitar 2 abad sebelum masehi.
sumber dari: sman11mks.com
Taman Tergantung Semiramis
Taman Tergantung Babylon (juga dikenali sebagai Taman Tergantung Semiramis) dan tembok-tembok Babylon (kini Iraq) telah dipertimbangkan untuk menjadi salah satu daripada Tujuh Keajaiban Dunia. Kedua-duanya telah dibina oleh Raja Nebuchadnezzar II (604-562 BC), cucu kepada Raja Hammurabi yang terkenal, sekitar tahun 600 SM . Taman tergantung Babylon terletak sekitar 50 kilometer selatan Baghdad, Iraq di sebelah tebing timur Sungai Euphrates.
Taman Tergantung sebenarnya tidaklah betul-betul “tergantung” seperti terikat dengan tali. Namanya datang dari terjemahan yang kata Yunani kremastos atau kata Latin pensilis, yang bermaksud bukan hanya “tergantung” tetapi “anjung,” seperti terletak di atas berandah atau suatu teres.
sumber dari: lintasunik.com
Saturday, 5 October 2013
'I'm going to offer you Babylon.
Hanging Gardens Of Babylon Pictures
sumber dari: newgardenidea.me
Painted illustration
sumber dari: bible-history.com
one of the Seven Wonders of the World
The Hanging Gardens of Babylon, one of the Seven Wonders of the World are documented to have been built approximately 2500 years ago in 600 BC. There is much speculation about whether or not the gardens really existed. Substantial evidence of the gardens remains has has not been found to prove they really existed. Some people who think that the gardens didn't exist, believed that soldiers who had passed through Babylon, were fascinated by the gardens because their hometowns were nothing like this and they may have exaggerated when describing the gardens.
This could have easily been done because Nebakanezer, the king who had the Hanging Gardens built, did have many amazing structures built (Hanging, 2008). Others argue that the documentation of the gardens was written in Greek or Latin so the translation of these writings could be incorrect (Twelve, 2010). Another reason people think the gardens didn't exist is because documentation has been found that listed all of the structures in Babylon at that point in time, and the gardens are not mentioned (Hanging, 2010). If they did exist, the gardens are the second oldest of the Seven Wonders.
Documents state that the gardens were built for King Nebakanezer II, king of Babylon for 43 years.
Nebakanezer 's wife, Amytis, was missed her hometown when she moved to Babylon. Babylon was very flat and dry, with very little rain and therefore had very little greenery. Her hometown was very mountainous, so Nebakanezer had the gardens built for her so it would resemble where she used to live. The gardens were huge and contained many types of flowers, fruit, animals, and waterfalls, which were said to have been from places all over the world. The gardens were supposedly built about thirty miles south of Baghdad, Iraq, along the Euphrates River (Hanging, 2008).
Although no ruins have been found, very detailed documentation of the gardens has been discovered. Nebuchadezzar had many other amazing structures build during his rule of Babylon so it is very likely that the hanging gardens really existed (Hanging, 2009).
Documentation of the gardens explains how the gardens were built. They were planted along a hill and had many different levels. Not only were the plants and flowers amazing, but also the technology used to water them. The different levels of the garden were very high up, and it barely ever rained in Babylon, so how did they construct the waterfalls and how did they water the plants? (Hanging 2007). The Babylonians created a water pump that transported water from the Euphrates River up to the Hanging Gardens. They created the pump by attaching buckets to a chain. The chain was connected to two big wheels at the top and bottom. These would allow the chain to come back up after it went to the bottom to retrieve the water. Slaves powered the chain by pulling it so that it would continue to move. As the chain moved, the buckets would go into the river and fill with water. They tipped over at the top of the pump so that the high gardens could be reached and irrigated. The water traveled down channels so that all of the plants could be watered (Hanging, 2010).
A historian by the name of Philo, described these water pumps: The Hanging Garden has plants cultivated above ground level, and the roots of the trees are embedded in an upper terrace rather than in the earth. The whole mass is supported on stone columns. Streams of water emerging from elevated sources flow down sloping channels. These waters irrigate the whole garden saturating the roots of plants and keeping the whole area moist. Hence the grass is permanently green and the leaves of trees grow firmly attached to supple branches. This is a work of art of royal luxury and its most striking feature is that the labor of cultivation is suspended above the heads of the spectators (Hanging, 2008).
sumber dari: personal.psu.edu
Babylon by P. Pirker
The capital of ancient Babylonia in Mesopotamia on the Euphrates River. Established as capital and rebuilt after its destruction by the Assyrians, Babylon was the site of the Hanging Gardens, one of the Seven Wonders of the World.
sumber dari: fantasyartdesign.com
Saddam Hussein's Palace
Saddam Hussein's Presidential Palace and important sites from ancient Babylon
sumber dari: architecture.about.com
sebuah persembahan cinta

Seperti juga Taj Mahal di India, yang dibina oleh Shah Jahan untuk permaisuri terkasihnya Mumtaz Mahal, taman bergantung Babylon ini pun merupakan sebuah persembahan cinta.
Taman ini dibina Nebukadnezar II yang memerintah dari tahun 605-562 SM, dikhas bagi Amytis, permaisuri tercintanya yang berasal dari kerajaan Media. Kerajaan Media berpusat di pergunungan Persia (Iran).
Kemahuan Amytis besar diantara hijaunya pergunungan, serta sejuknya tiupan angin. Keadaan kerajaannya berbeza dengan Babylon.
Babylon merupakan wilayah datar, kering, dan panas. Ini membuat Amytis selalu terkenang akan hijaunya hutan Media. Ia rindu kembali ke kampung halamannya.
Untuk mengobati kerinduan isterinya Raja Nebukadnezar memerintahkan, untuk membina sebuah taman rendang di dataran tinggi. Taman itu dibina di timur sungai Eufrat (Euphrates), sekitar 50 km selatan Baghdad, Iraq.
Menurut sejarawan Yunani Diodorus Siculus, lebar taman ini 400 kaki, panjangnya 400 kaki dan tingginya sekitar 80 kaki. Taman ini berdiri di atas ‘alas’ yang diperbuat dari batu bata yang ditutup aspal dan keramik (tanah liat dibakar).
Berfungsi untuk mencegah masuknya resapan air ke tanah yang berkemungkinan besar akan meroboh kestabilan taman.
Sejarawan lainnya, Herodotus mengungkapkan, bahawa taman ini terletak di dalam dinding istana yang berlapis emas yang panjangnya mencapai 56 mil.
Jalan taman ini sangat lebar hingga membolehkan kereta yang ditarik empat ekor kuda untuk berpatah balik.
Disini juga berdiri kuil-kuil pemujaan yang berisi patung dewa dari emas. Taman ini dibuat bertingkat, lebih tinggi dari bangunan lain di kota Babylon, menimbulkan ilusi ‘tergantung di udara’.
Kesan ini makin jelas bila taman dilihat dari balik rumah-rumah penduduk. Semua tanaman akan kelihatan tergantung di atas atap perumahan. Inilah sebabnya kenapa taman itu dinamakan taman tergantung.
Disebutkan juga, bahawa taman itu dibina oleh Nebuchadnezzar untuk menghibur isterinya yang sangat suka berada didaerah yang dikelilingi oleh pergunungan.
Semenjak itulah taman tergantung, satu dari tujuh keajaiban dunia yang ada.
sumber dari: tulahan.blogspot.com
The Lion of Babylon
Ishtar Gate, in a depression a little short way off the Street of Processions, still has some of its old wall decorations of bulls, symbol of Adad, god of storms, and dragons, symbol of Marduk, the chief god. The dragon here is a composite animal with the physical attributes of snake, lion and eagle. These brick relieves are not glazed, as the beautiful glazed-brick panels figuring bulls, and dragons and lions (symbol of Ishtar) which decorated the Gate, the Palace and the Street of Processions were all taken, prior to World War I, to Berlin by the German expedition which excavated Babylon then. Along the Street, on the left a brick column is seen, which may have had a statue standing on it.
The Lion of Babylon, large and splendidly carved in basalt, reminds us again that the lion was the symbol of the goddess Ishtar. In the sculpture, the lion's back has marks indicating that it was meant for a precious saddle upon which the goddess Ishtar would stand.
sumber dari: atlastours.net
destroyed by a Persian King
This Empire began November 626 B.C, when the Babylonian military leader Nabopolassar began his reign in Babylon. He won control of Babylonia from the Assyrians, and put an end to their Empire as a result from constant attacks by the Babylonians and their Median allies. Nabopolassar ruled the `New Babylonian Empire` until his death in 605 B.C, which helped to administrate what is now, the Middle East.
On a night of October in 539 B.C.E, Babylon was destroyed by a Persian King named Cyrus, and this was prophesized through the prophet Isaiah in the Bible. It was also prophesized : "Regarding Babylon, it was foretold: “She will never be inhabited, nor will she reside for generation after generation. And there the Arab will not pitch his tent, and no shepherds will let their flocks lie down there.” (Isaiah 13:20) This prophecy did more than predict a city’s fall. It showed that Babylon would be destroyed permanently. You can see a glimpse of the evidence and of the fulfillment of these words by taking a look at the photo below.
sumber dari: mesopotamiadiv1.wikispaces.com
Nimrod and the "Tower of Babel"
The title 'Babylon", means 'gate of the god'. This was a city of ancient Mesopotamia, located between the Euphrates and Tigris Rivers. Today, the remains of Babylon are spread out over a cluster of mounds located on the Euphrates about 60 miles southwest of Baghdad, Iraq. It lay upon both sides of this river, providing a good source of water for the people who lived there. It was founded sometime in the 3rd millenium by a man by the name of Nimrod; the son of Cush, and the grandson of Ham.
Nimrod was also the one who tried to build the 'Tower of Babel'; (to the right). His name meant "let us revolt", or in other words, 'let us rebel'. He was said to be a mighty hunter, but one that hunted man rather than animals. His motive of building this tower was for it to be high enough to reach the heavens. He believed he was equal to God in power, which was a wrong thought. With cruelty, he had his slaves at work to build this for him. Nimrod was an unholy man, and he was not supposed to be doing such things, so God caused all to speak different languages. They could not understand each other, so they stopped building the tower and "scattered upon the face of the earth", bringing their different languages along with them. In conclusion to this, the 'Tower of Babel' was never completed.sumber dari: mesopotamiadiv1.wikispaces.com
Sunday, 16 June 2013
Apakah ini bukti kaum yang dibinasakan?
19: 74. berapa banyak umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka,
sedang mereka adalah lebih bagus alat rumah tangganya
dan lebih sedap di pandang mata.
tulisan ini diambil dari salah satu website, tetapi karena banyaknya duplikasi sehingga menyulitkan untuk mengecek dari mana asal mula tulisan ini dan mudah-mudahan website yang dikutip ini adalah website yang pertama kali memberitahukan kepada kita tentang reruntuhan yang memperlihatkan peradaban kaum-kaum sebelum kita
reruntuhan-terindah-di-muka-bumi
Reruntuhan bangunan berikut ini menarik untuk dilihat, sebab bangunan tersebut kebanyakan adalah bangunan peninggalan jaman kuno yang sudah berumur ratusan bahkan ribuah tahun. berbagai penyebab bangunan tersebut runtuh kebanyakan adalah karena faktor alam, peperangan, dan usia bangunan yang sudah tua.
Reruntuhan ini terletak sekitar 90 km dari kota Baghdad, nama asli kota ini adalah “Bab-ili” yang berarti “gerbang para dewa”. Kota ini dikenal luas pada zaman era klasik, sebagai kota yang indah dengan “Taman Gantung” yang termasuk salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia. Kota ini berdiri sebagai pusat pemerintahan dan budaya, dan berjaya selama lebih kurang 15 abad, semenjak kedatangan suku Amor (sekitar 1850 SM) sampai Alexander Agung, yang akhirnya meninggal di sana pada 322 SM. Hammurabi (1892-1750 SM), salah satu penguasa terhebat di Irak juga membuat kota ini sebagai pusat pemerintahan.
sumber dari: goeskorn.wordpress.com
Sebenarnya Tidak Bergantung
![]() |
| Rahasia Taman Bergantung Babylonia |
Taman bergantung sebenarnya tidak sungguh-sungguh tergantung. Ada misinterpretasi soal kata ‘bergantung.’ Orang Yunani menyebut taman ini dengan ‘kremastos’ yang dilatinkan menjadi ‘pensilis’, dan dalam bahasa Inggris disebut ‘overhanging’, artinya berada di balkon atau di teras. Jadi yang dimaksud dengan taman bergantung adalah taman yang berada di dataran tinggi seperti balkon atau teras.
Sumber dari bangsa Yunani menyebutkan bahwa taman bergantung berbentuk quadrangular, setiap sisi panjangnya 4 plethora, terdiri dari arched vaults di pondasinya. Taman ini mempunyai tumbuhan yang ditanam diatas permukaan tanah, dan akar dari tanaman ini melekat di teras bagian atas, bukan didalam bumi. Seluruh massanya didukung oleh colom batuan. Air dipompa ke atas dan dibiarkan mengalir menuruni lereng, mengairi tumbuh-tumbuhan.
Robert Koldewey adalah arkeologis Jerman yang berhasil menemukan reruntuhan kota Babylon. Ia mulai menggali lokasi situs tahun 1899. Koldewey menggali selama 14 tahun dan berhasil menemukan dinding istana, menara Babel, dan fondasi istana Nebukadnezar. Penemuan lainnya yang mendukung adanya taman bergantung, termasuk kolong bangunan dengan dinding yang tebal dan irrigasi yang dekat dengan istana selatan.
Ahli sejarah Yunani, Strabo, mengatakan bahwa taman bergantung terletak di sungai Euphrates. Yang lainnya berpendapat bahwa lokasinya sangat jauh dari sungai Euphrates berdasarkan penemuan dari kolong bangunan yang terletak beberapa ratus yard dari sungai.
![]() |
| Perkiraan Lokasi Taman bergantung babylonia |
Tempat beradanya istana telah direkonstruksi dan diperkirakan taman bergantung terletak didaerah yang merentang dari sungai ke istana. Dinding yang massif, tebal 25 kaki, baru-baru ini ditemukan di pinggir sungai, yang kemungkinan merupakan langkah untuk membentuk teras yang dideskripsikan dalam referensi yunani.
Menurut manuskrip hanya ada dua bangunan di kota itu yang terbuat dari batu, yakni dinding utara istana, dan taman bergantung. Koldewey berhasil menemukan 14 ruangan dari batu. Diperkirakan diantaranya merupakan bagian dari taman bergantung.
Koldewey juga menemukan lubang aneh di lantai, kemungkinan besar di tempat itulah dulu berdiri pompa kincir raksasa taman bergantung. Lokasi reruntuhan yang ditemukan Koldewey berada jauh dari sungai Eufrat. Jadi arkeolog lain masih meragukan kalau reruntuhan itu berasal dari taman bergantung. Sebab menurut sejarahnya taman itu terletak dekat sungai Eufrat.
Pada tahun 538 BC, pemimpin terakhir Babylonia menyerah kepada Cyrus Agung dari Persia. Dan ini adalah pertanda berakhirnya dinasti Chaldean dan Babylonia.
Meskipun peradaban Babylonia telah punah tapi legenda mereka akan selalu abadi dan diceritakan turun temurun sampai saat ini.
sumber dari: ilusismasa.blogspot.com
cerita cinta antara Nebuchadnezzar dan Amyitis
SEJARAWAN Mesir kuno, Herodotus, yang hidup sekitar tahun 450 SM, pernah mengatakan, "Keindahan Kota Babilon melampaui keindahan kota-kota tersohor di dunia." Ia mengatakan hal itu setelah melihat tembok kota yang dibangun Raja Nebuchadnezzar II yang berkuasa selama 43 tahun-sejak tahun 605 SM-begitu indah dan kokoh. Nebuchadnezzar pula yang membangun Taman Gantung. Konon, menurut cerita, taman itu dibangun Nebuchadnezzar untuk menghibur istrinya, Amyitis, putri Raja Medes dari Media yang kangen pada kampung halamannya. Agar Amyitis betah tinggal di Babilon, maka dibangunlah taman itu yang kini tercatat sebagai salah satu keajaiban dunia. Hubungan* Nebuchadnezzar dan Amyitis adalah hubungan* politik. Tujuan utama Nebuchadnezzar adalah mempersatukan Kerajaan Babilonia dan Media. Diodorus Siculus, sejarawan Yunani pada masa itu, menggambarkan hebatnya Taman Gantung bagi Amyitis. Menurut Diodorus, lebar taman itu 400 kaki (sekitar 130 meter), panjangnya 400 kaki, sedangkan tingginya lebih dari 80 kaki (sekitar 26 meter). Padahal, tembok Kota Babilon, menurut Herodotus, 320 kaki (sekitar 106 meter). Cerita Taman Gantung Babilon adalah cerita cinta antara Nebuchadnezzar dan Amyitis. Kisah ini mirip cerita pembangunan Taj Mahal di Agra, India. Taj Mahal adalah bangunan cinta. Salah satu bangunan yang disebut paling indah di dunia itu dibangun atas perintah Sultan Sjah Jahan (Sjahjahan). Adalah "cinta dan kesetiaan" pada istrinya, Arjumand Bano Begum yang juga dikenal dengan nama Begum Mumtaz Mahal (Mahkota Kerajaan), yang mendorong Sjah Jahan memerintahkan untuk membangun Taj Mahal. Bangunan makam yang terbuat dari marmer putih itu dibangun pada tahun 1631-1653 dengan mengerahkan 22.000 pekerja serta puluhan arsitek, seniman, dan ahli bangunan dari berbagai negara, termasuk Italia dan Perancis. Batu marmer dikumpulkan dari seluruh India, seperti Makrana dan Rajasthan. Batu-batu khusus didatangkan dari Rusia, Cina, Afganistan, Persia, Asia Tengah, dan Yaman. Kini, peninggalan Kerajaan Dinasti Neo-Babilonia itu masih dapat disaksikan di Babilon. Kompleks kota raja konon luasnya 21 kilometer persegi. Ekskavasi hingga kini terus dilakukan. Di antara yang sudah terlihat dan sudah direstorasi adalah Istana Nebuchadnezzar yang total luasnya 52.000 meter persegi. Selain itu, bangunan lain yang sudah direstorasi adalah Kuil Ishter, Kuil Nabu, dan Kuil Ninimakh serta Pintu Gerbang Ishtar (ini merupakan pintu gerbang yang menghadap ke utara). CERITA tentang Babilon tidak bermula dari sini. Bertahun-tahun sebelumnya, ketika dunia "masih muda", cerita tentang Babilon sudah ada. Kota yang terletak sekitar 90 kilometer sebelah selatan Baghdad dan diapit dua sungai besar, Tigris dan Eufrat, itu memang kaya legenda, cerita, dan sejarah. Misalnya, cerita tentang Menara Babel. Kisah Menara Babel yang melambangkan keangkuhan, kesombongan manusia, itu sudah disebut-sebut dalam Kitab Penciptaan, Kitab Suci Perjanjian Lama. Pembangunan menara itu diprakarsai oleh Nimrod, anak cucu Nabi Nuh di zaman Babilon kuno, jauh tahun sebelum zaman Nebuchadnezzar. Orangtua Nimrod adalah Cush, putra Ham. Bahkan, demikian menurut cerita, Kota Babilon dan Ninive juga mula pertama dibangun oleh Nimrod. "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota, dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit. Marilah kita cari nama supaya kita jangan terserak ke seluruh Bumi," demikian antara lain bunyi ajakan Nimrod kepada orang-orangnya, seperti yang ditulis dalam Kitab Penciptaan. Lambert Dolphin dalam The Tower of Babel and The Confusion of Languages berusaha mencari jawaban mengapa mereka membangun menara seperti itu. Untuk apa menara itu dibangun? Mencari kepuasan diri dan kemegahan diri. Itulah jawaban singkat Lambert Dolphin. Pembangunan sebuah kota, seperti yang dilakukan Nimrod ketika itu, melambangkan dambaan manusia untuk terus berkumpul. Mereka, ketika itu, takut tercerai-berai dan hidup di tempat yang belum mereka kenal berhadapan dengan bahaya. Karena itu, didirikanlah sebuah kota-Babilon dan Ninive-sebagai pusat kegiatan, sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan mereka. Akan tetapi, ketika mereka membangun menara dengan mengatakan, "Marilah kita cari nama, marilah memegahkan diri", di saat itulah kemanusiaan manusia berkuasa. Menara dibangun untuk kebutuhan badan, jiwa, dan semangat. Bahkan, mereka ingin membangun menara yang mencapai langit. Kalau perlu dapat memanah Matahari dari puncak menara. Pendek kata, menara dibangun untuk pemuasan diri. Inilah, yang menurut kisah, yang menjadi penyebab turunnya hukuman dari Tuhan sehingga mereka tercerai-berai dan tidak bisa memahami bahasa mereka satu sama lain. Sindrom Menara Babel itu pula, yang menurut para sejarawan, merasuki Nebuchadnezzar II, yakni dengan membangun Taman Gantung dan Menara Babel di kompleks istananya. Ia membangun kompleks istana begitu megah, yang sekarang sisa-sisanya masih bisa dilihat, dan memerintah dengan tangan besi. Babilon di zaman Nebuchadnezzar II, yang memerintah pada tahun 605-562 SM, mencapai masa keemasan. SAAT pasukan gabungan pimpinan AS menggempur Irak sekarang ini, cerita Menara Babel itu muncul lagi. Apa yang dicari George W Bush? Apakah ia seperti Nimrod dan orang-orang yang mengatakan, "Marilah kita cari nama", saat hendak membangun Menara Babel? Kalaupun Bush tidak mengatakan seperti itu, suka tidak suka, saat ini sindrom Menara Babel itu sudah merasuki dunia. Pembangunan Menara Babel dimaksudkan untuk menyeragamkan manusia zaman itu dalam satu budaya. Saat ini pun demikian. Semua ada di bawah dominasi budaya, yakni budaya kapitalisme, satu hegemoni, yakni hegemoni komunikasi AS. AS yang merupakan satu-satunya adikuasa di dunia ini berusaha memaksakan kehendaknya dengan segala cara dan upaya, termasuk perang. Ketika Divisi Infanteri Ke-3 AS bergerak dari Kuwait ke Baghdad beberapa hari lalu, banyak yang khawatir akan nasib situs sejarah yang sebenarnya dapat mengajak orang untuk selalu bercermin bahwa memegahkan diri, mencari nama untuk diri sendiri, adalah awal dari kehancuran. Hingga kini, memang Babilon masih selamat. Tetapi, andaikan nanti Kota Babilon-kata Babilon berasal dari bahasa Akkadia dan berarti Pintu Tuhan-menjadi sasaran, maka semuanya hanya akan tinggal cerita: cerita tentang kebesaran Babilon.
sumber dari: ratujempol.blogspot.com
Puisi Taman Tergantung Babylon

Bagaimana rupanya taman tergantung Babylon? Seseorang pernah melukiskannya melalui sebuah puisi : ”Seseorang boleh minum pati buah di taman ini, hanya dengan menghidu aroma pokoknya sahaja.”
Ketika angin berhembus, daun-daun palma berguguran dibawa angin mengambang ke kolam-kolam lili air, dan ke kota Babylon di bawahnya.
Seluruh wilayah kota terbesar pertama di masa kuno ini (penduduknya dianggarkan 200.000 orang) kelihatan sangat jelas dari puncak taman.
Walaupun berada di dataran tinggi, namun seluruh tanaman disirami air setiap hari. Sistem pengairan taman ini sangat menakjubkan. Tidak salah kiranya jika Philon, ahli falsafah Yunani yang gemar mengembara mencatatnya sebagai satu dari tujuh keajaiban kuno dunia. Taman ini sangat memikat hati.
sumber dari: tulahan.blogspot.com
hadiah kepada Amytis,
Taman ini dibangun oleh Nebukadnezar II, cucu Raja
Hammurabi yang terkenal, sekitar tahun 600 SM sebagai hadiah untuk istrinya yang merindukan rumahnya,
Amyitis.
Amytis merindukan pohon-pohon dan tanaman wanginya di Persia, sedangkan dalam tulisan lain dikatakan
bahwa istri Nebukadnezar II bernama Amuhia dan ia berasal dari Nusantara. Taman ini diperkirakan hancur sekitar 2 abad sebelum masehi. Kemudian Taman gantung ini di dokumentasikan oleh sejarawan Yunani seperti Strabo
dan Diodorus Circulus.
Lembaran sejarah paling tua yang mencatat karya arsitektur yang dilengkapi taman sebagai wujud cinta kasih terhadap seseorang yang sangat disayangi adalah di Mesopotamia, Irak purba. Dalam catatan Herodotus, seorang penulis Yunani kuno, disebutkan bahwa saat Raja Nebukadnezar II yang menjadi raja di Kerajaan Babylon baru (605-562 SM), telah memerintahkan untuk membuat taman gantung yang sangat indah, sebagai hadiah kepada Amytis, sang permaisuri yang sangat disayanginya.
Taman gantung merupakan wujud arsitektur pertamanan khas Mesopotamia, yang telah dikenal rakyat Mesopotamia sejak masa pemerintahan Raja Hammurabi di Kerajaan Babylon lama (1792-1750 SM). Di antara bangunan-bangunan kota yang tinggi mencuat di permukaan tanah itulah biasanya ditanami tanaman-tanaman yang indah, sehingga dari kejauhan terlihat seperti taman yang menggantung. Taman gantung yang dibangun Raja Nebukadnezar II yang puncak kejayaannya sekitar 612 SM, kemudian menjadi sangat terkenal ke seluruh penjuru dunia dan dikagumi rancangannya hingga kini. Taman Gantung Babylon ini kemudian menjadi monumen agung Kerajaan babylon yang tiada duanya. Luas taman ini diperkirakan 4 are (1 acre = 4046.86 m²). Wujud arsitekuralnya sangat unik, karena bertingkat-tingkat. Taman ini ditanami berbagai pepohonan indah dan dilengkapi sistem pengairan hingga ketinggian 100 meter di atas permukaan tanah. Dari puncak taman ini dapat disaksikan pemandangan di sekeliling Kerajaan Babylonia.
sumber dari: prisca-putri.blogspot.com
Ishtar Gate
Ahli arkeologi Iraq yang juga ketua jabatan Sejarah daripada Universiti Muthana, Hadiya Jwan al-Khalidi pernah meluahkan rasa bimbangnya terhadap beberapa tapak arkeologi yang berada dalam keadaan membahaya dan mungkin akan lupus untuk selama-lamanya jika tiada usaha untuk memeliharanya dilakukan. Kebimbangannya juga dirasai oleh ramai pencinta sejarah purba Babylon dan Iraq di seluruh dunia. Faktor peperangan yang tidak kunjung padam menyebabkan rasa bimbang itu terus menguasai jiwa para saintis dan ahli arkeologi. Diharap, tinggalan sejarah ini perlu dijaga dan dipelihara sebaik mungkin kerana ia adalah warisan kepada generasi terkemudian.
Gerbang Ishtar adalah salah satu daripada lapan pintu gerbang yang menghiasi kota Babylon purba. Namanya diambil berdasarkan nama dewi masyarakat Babylon purba, Ishtar. Gerbang Ishtar dibina pada 575 sebelum masihi atas arahan daripada Nabuchadnezzar II. Pintu gerbang ini dibina dengan begitu unik dimana bahan utamanya terdiri daripada batuan biru yang dikenali Lapis Lazuli manakala dindingnya pula dihiasi dengan ukiran timbul Auroch(lembu) dan Masusshu(naga).
sumber dari: takusahrisau.wordpress.com
Saturday, 22 September 2012
sejarah pembinaan TTB

Bagaimana rupanya taman tergantung
Babylon? Seseorang pernah melukiskannya melalui sebuah puisi : ”Seseorang boleh minum pati buah di
taman ini, hanya dengan menghidu aroma pokoknya sahaja.”
Ketika angin berhembus, daun-daun palma berguguran
dibawa angin mengambang ke kolam-kolam lili air, dan ke kota Babylon di
bawahnya.
Seluruh wilayah kota terbesar pertama di masa kuno ini
(penduduknya dianggarkan 200.000 orang) kelihatan sangat jelas dari puncak
taman.
Walaupun berada di dataran tinggi, namun seluruh
tanaman disirami air setiap hari. Sistem pengairan taman ini sangat menakjubkan.
Tidak salah kiranya jika Philon, ahli falsafah Yunani yang gemar
mengembara mencatatnya sebagai satu dari tujuh keajaiban kuno dunia. Taman ini
sangat memikat hati.
Babylon yang merupakan ibukota dari Babylon, kerajaan
kuno Mesopotamia, iaitu sebuah kota yang terletak berhampiran sungai
Euphrates, yang sekarang dikenali sebagai
Iraqselatan.
Berdasarkan sejarah, dinasti pertama dari Babylon
didirikan oleh Hammurabi pada masa Neo-Babylonian setelah kehancuran
kerajaan Assyrian. Babylon menjadi salah satu kota terpenting pada zaman Timur
Tengah kuno ketika Hammurabi (1792-1750 BC), menjadikannya ibukota kerajaan
Babylon.
Kebudayaan bangsa Babylon dibina dengan sangat baik dan
catatan cuneiform yang berjaya ditemui menunjukkan, agama, sejarah, dan ilmu
pengetahuan pada masa itu sangat berkembang.
Ubat-ubatan, kimia, alchemy, botany, matematik, dan
astronomi juga dipraktikkan. Agama dan tulisan kuno yang berbentuk cuneiform ini
berasal dari kebudayaan Sumer yang lebih tua.
Mereka juga mengembangkan bentuk abstrak dari tulisan
berdasarkan symbol cuneiform (berbentuk baji). Tulisan ini ditulis di tanah liat
yang basah dan dibakar dibawah terik matahari.
“Dongeng tentang penciptaan” bangsa babylon ditulis
dalam tujuh lembaran tanah liat dan ditampilkan serta dibacakan pada festival
tahun baru di Babylon.
Lembaran-lembaran ini mengisahkan tentang kejayaan
Tuhan Kota Babylon, Marduk, dan bagaimana Marduk boleh menjadi Tuhan tertinggi,
Raja semua Tuhan yang ada di syurga dan bumi.
sumber dari: tulahan.blogspot.com
Subscribe to:
Posts (Atom)



