Pages

Showing posts with label ramadhan. Show all posts
Showing posts with label ramadhan. Show all posts

Friday, 28 February 2014

Mengapa Harus Tilawah Quran Selama Ramadhan




women reading quran Mengapa Harus Tilawah Quran Selama Ramadhan


BULAN Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Karena pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali diturunkan dari lauhul mahfuz ke langit dunia secara sekaligus, lalu dari langit dunia di turunkan ke bumi secara berangsur-angsur dan diterima oleh nabi Muhammad saw. Allah berfirman:
 
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil),” (Al-Baqarah: 185).
 
Bahwa Al-Qur’an merupakan sumber kemuliaan dan kekuatan bagi umat Islam. Melalui Al-Qur’anlah manusia mendapatkan kemuliaannya dan menemukan kebahagiaannya; baik di dunia maupun di akhirat. Adapun bentuk kemuliaan yang terpancar dari Al-Qur’an sangatlah jelas dan gamblang; karena ia sebagai kitab yang disucikan dan kitab yang dimuliakan, seperti yang disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya : “Dan demi Al-Qur’an yang Mulia,” (Qaf:1).
 
Allah juga berfirman: “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?” (Al-Anbiya:10).
 
Adapun silsilah kemuliaan yang terpancar dari Al-Qur’an itu sendiri dapat kita temukan melalui beberapa hal berikut;
 
1. Bahwa Zat yang menurunkan Al-Qur’an adalah Zat Paling Mulia yaitu Allah SWT;
 
2. Manusia pertama yang menerima Al-Qur’an adalah sosok paling mulia, berpredikat sayyidul anbiya wal atqiya (penghulu para nabi dan orang-orang bertaqwa), bahkan beliau juga sebagai sosok yang paling mulia dari para nabi dan para rasul serta seluruh makhluk yang ada di muka bumi ini sehingga wajar beliau dijuluki dengan khairul basyariyah (sebaik-baik manusia) yaitu Nabi Muhammad saw;
 
3. Tempat diturunkannya Al-Qur’an adalah tempat yang paling mulia di muka bumi ini, yang diberi julukan sebagai tanah haram (tanah yang disucikan), dan sebagai ummul qura (yaitu Makkah Al-Mukarramah.
 
4. Bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an adalah bulan yang paling mulia; yaitu bulan Ramadhan yang memiliki julukan sayyidus syuhur (penghulu bulan)
 
5. Waktu diturunkannya Al-Qur’an juga merupakan waktu yang paling mulia disisi Allah SWT yaitu lailatul qadar (malam kemuliaan)  seperti yang disebutkan dalam surat Al-Qadar: ayat 1-5; yaitu kemuliaan dan lailatul mubarakah (malam penuh keberkahan) seperti yang difirmankan Allah dalam surat Ad-Dukhan ayat 3, dan menjadi malam yang sangat mulia yang disebut dengan lailatul qadar (malam kemuliaan) dan malam seribu bulan.
 
Oleh karena itu, setiap hamba Allah (umat Islam) yang ingin mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, maka harus banyak berinteraksi dengan Al-Qur’an; baik dengan membaca, memahami, menyimak, mentadabburkan, menghafal dan mengamalkan kandungan isi Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, serta mengajarkannya kepada orang lain.
 
Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mau belajar Al-Qur’an dan mau mengajarkannya”.(Bukhari dan Ashabus sunan)
 
Dan Allah SWT juga berfirman: “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?” (Al-Anbiya:10).
 
Di sinilah letak kebahagiaan yang dapat diperoleh setiap hamba ketika mendapat kesempatan mengarungi kehidupan di bulan Ramadhan; selain puasa, qiyamulail lail, juga tadarrus Al-Qur’an, yang merupakan sumber kemuliaan Islam dan umatnya.
 
Adapun puncak kebahagiaan yang akan diraih bagi siapa yang membaca Al-Qur’an dapat kita simpulkan beberapa hal berikut;
 
1. Mendapatkan syafaat di yaumil akhir.
Nabi saw bersabda:  “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi yang membacanya pada hari kiamat”. (Muslim)
 
2. Dilipat gandakannya pahala sepuluh kali lipat.
Sebagaimana hadits nabi saw:  “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an) maka baginya satu ganjaran, dan akan dilipatgandakan dari setiap ganjaran sepuluh kali lipat, saya tidak katakan alif lam mim satu huruf, namun alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim adalah satu huruf”. (Tirmidzi).
 
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah ra. berkata : Rasulullah saw bersabda :  
 
“Bagi siapa yang membaca Al-Quran dengan mahir maka ganjarannya akan didudukkan bersama para malaikat yang mulia dan baik, dan bagi siapa yang membaca Al-Quran namun terbata-bata di dalamnya dan terasa berat atasnya maka baginya dua ganjaran”. (Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i)
 
3. Sebaik-baik manusia adalah yang membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Tirmidzi, Nasa’I dan Abu Daud dari Abu Musa Al-Asy’ari ra. bahwa Rasulullah saw bersabda :
 
“Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al-Quran seperti buah utrujah : baunya wangi dan rasanya enak –manis-, dan perumpamaan orang beriman yang tidak membaca Al-Quran seperti buah Tamr –Korma- tidak memiliki bau namun rasanya manis, dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Quran seperti Raihanah –parfum- baunya wangi namun rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran seperti buah handzolah : tidak ada bau dan rasanya pahit…”
 
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan Nasa’i dari Abdullah bin Umar bin Al-Khattab ra. bahwa Rasulullah saw bersabda :
 
 “Sesungguhnya perumpamaan penghafal Al-Quran seperti pemilik seekor unta yang ditambatkan, jika dia mengikatnya maka dia tidak akan lepas dan pergi, namun jika dia melepas ikatannya maka dia akan pergi…” dan ditambahkan oleh imam Muslim :  “Dan jika penghafal Al-Quran membaca dan menikmati kandungannya, maka dia akan datang pada hari kiamat memberi syafaat kepadanya.”
 
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An-Nawas bin Sam’an berkata : Saya mendengar ra. Rasulullah saw bersabda :  “Akan didatangkan pada hari Kiamat dengan Al-Quran dan orang-orang yang mengamalkannya di dunia terutama –yang mengamalkan- surat Al-Baqarah dan Ali Imran dan Rasulullah saw memberikan tiga contoh yang tidak terlupakan setelahnya, dia berkata sekan keduanya dua awan atau dua payung hitam diantara keduanya cahaya atau seakan keduanya dua sayap dari burung yang berbulu yang keduanya akan memberi hujjah –pembelaan- bagi peiliknya (membaca dan mengamalkannya).”
 
4. Diangkatnya derajat satu kaum. Suatu kaum akan diangkat derajatnya oleh Allah SWT karena interaksi dengan Al-Qur’an Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar bin Al-Khattab ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum melalui Kitab ini –Al-Quran- dan merendahkan yang lainnya..”.
 
Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash ra. dari Nabi saw bersabda : “Akan dikatakan kepada siapa yang membaca Al-Quran : Bacalah dan lemah lembutnya, bacalah dengan tartil sebagaimana kamu membacanya di dunia dengan tartil, karena sesungguhnya kedudukanmu dengan yang lainnya terdapat pada satu ayat yang kamu baca…”
 
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abdullah bin Umar bin Al-Khattab ra. dari Nabi saw bersabda : “Tidak boleh ada Hasad –dengki- kecuali pada dua hal : kepada seseorang yang diberi oleh Allah Al-Quran lalu ia mengamalkannya sepanjang malam dan siang hari, dan kepada seseorang yang Allah anugerahkan kepadanya harta dan ia menginfakkannya sepanjang malam dan siang hari…”
 
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda :  “…Dan tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Kitabullah –Al-Quran-, dan saling mengajarkannya di antara mereka kecuali turun di tengah-tengah mereka ketenteraman, dinaungi rahmat dan dikelilingi para malaikat serta Allah SWT menyebut-nyebut mereka kepada siapa yang berada di sisi-Nya.”
 
Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Jabir bin Abdullah ra. Berkata: Rasulullah saw bersabda : “Bacalah Al-Quran, karena semuanya banyak mengandung kebaikan.” Nabi juga bersabda: “Ibadah yang paling utama bagi umatku ialah membaca Al-Quran”. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Fadha’ilul-Quran).
 
Di dalam sebuah hadits dari ‘Abdullah bin Mas’ud Rasulullah saw bersabda:  “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah hidangan Allah, oleh karena itu hendaklah kamu menyebutnya dengan kekuatan yang kamu mampu menyebutnya. Sesungguhnya Al-Quran ini adalah tali Allah, cahaya yang terang benderang dan penawar yang berguna. Penjaga kepada siapa yang berpegang kepadanya, jaminan kejayaan bagi yang mengikutinya. Ia tidak salah yang menyebabkan ia tercela, ia tidak bengkok yang menyebabkan ia perlu dibetulkan, keajaibannya tidak kunjung habis dan ia tidak menjadi cacat sekalipun banyak (kandungannya) ditolak orang. Bacalah Al-Quran karena Allah akan memberi ganjaran ke atas setiap huruf dari bacaanmu dengan sepuluh kebaikan. Aku tidak mengatakan kepadamu Alif, Lam, Mim itu satu huruf tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.” (Al-Hakim).
 
Dalam satu wasiat kepada Abu Zar Rasulullah berkata: “Kamu wajib melazimkan dirimu membaca Al-Quran karena ia adalah cahaya untuk kamu di bumi dan perbendaharaan untuk di langit.” (Ibnu Hibban).
 
Karena itulah membaca Al-Qur’an pada bulan Ramadhan merupakan aktivitas yang harus di giatkan dan diperbanyak; baik pagi, siang atau malam hari. Dan Menjadikannya sebagai wirid harian. Paling tidak ada 3 wirid harian Qur’ani yang dapat dilakukan, guna mendapatkan julukan sebagai ahlul Qur’an dan mendapatkan al-karamah (kemuliaan) was sa’adah (kebahagiaan) melalui Al-Qur’an, serta kelak mendapatkan syafaat pada hari kiamat.
 
Rasulullah saw bersabda: “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafaat karena ku”. Al-Qur’an pun berkata : “Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafaat karena ku” Rasulullah saw bersabda : Maka keduanya akan memberi syafaat” (Ahmad, Hakim, Abu Nu’aim; sanadnya Hasan)
 
Wirid Pertama Wirid Dalam Membaca Membaca Al-Quran sesuai dengan adab-adabnya, kaidah-kaidahnya serta sunnah-sunnahnya, dan membacanya tidak kurang dari satu juz Al-Quran setiap hari, sehingga bisa mengkhatamkan Al-Quran setiap bulan satu kali, -sebagai batasan terendah yang ditetapkan oleh Rasulullah saw kepada pembaca Al-Quran- atau dapat lebih bagi yang ingin mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan lebih banyak lagi, apalagi pada bulan yang penuh berkah ini.
 
Wirid Kedua : Wirid Menghafal Yaitu berusaha menghafal Al-Quran setiap hari satu ayat atau dua atau tiga ayat, lalu mengulangi hafalannya dan memperbaikinya setiap hari, sehingga waktu yang berjalan beberapa tahun dapat menghafal Al-Quran secara keseluruhan dengan baik dan benar, memang sulit untuk mampu menghafal Al-Qur’an secara keseluruhan, selain banyak rintangan, cobaan, gangguan, juga karena faktor azam (kesungguhan) dalam jiwa seseorang, sehingga kesulitan untuk menghafal Al-Qur’an.
 
Wirid Ketiga : Wirid Tadabbur Yaitu dengan melakukan langkah-langkah yang terprogram; menerapkan program setiap hari satu ayat, dua , atau tiga ayat atau lebih dari itu. Berusaha untuk hidup dengannya dalam dirinya atau anggota tubuhnya. Dan dengan demikian, waktu-waktunya akan selalu dilewati dengan mentadabburkan Al-Qur’an, sehingga dalam beberapa tahun lamanya akan mampu mengkhatamkannya, khususnya dalam mentadabburkan Al-Quran, berinteraksi dengannya, menafsirkannya, memahaminya dan menguasainya. Marilah kita jadikan membaca Al-Qur’an bagian untuk meraih jutaan kebaikan, kemuliaan dan kebahagiaan. Imam At-Tirmidzi dalam hadits Hasan Shahih dari Abdullah bin Mas’ud ra.
 
Meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an) maka baginya satu ganjaran, dan akan dilipatgandakan dari setiap ganjaran sepuluh kali lipat, saya tidak katakan alif lam mim satu huruf, namun alif adalah satu huruf, lam satu huruf dan mim adalah satu huruf,” (Tirmidzi).
 
Sederhananya kita bisa katakan: Satu juz Al-Qur’an kira-kira berjumlah 7000 huruf; 1 huruf dikalikan dengan 10 kebaikan x pahala 70 kewajiban = 4.900.000 (empat juta sembilan ratus ribu) kebaikan. kita bisa membaca satu juz paling lama kira-kira 40 menit. Jika kita mampu mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali saja di bulan Ramadhan, maka biidznillah kita bisa meraih 147 juta kebaikan. Dan jika kita mampu mengkhatamkan tiga kali, 147 x 3 = 441 juta kebaikan. Sungguh, Allah swt. akan melipat-gandakan pahala kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, berlipat-lipat.



sumber dari: islampos.com

Friday, 15 November 2013

Fasting From One's Desires






By Bilal Assad.

 "The month of Ramadan in which was revealed the Quran, a guidance for mankind and clear proofs for the guidance and the criterion (between right and wrong). So whoever of you sights (the crescent on the first night of) the month (of Ramadan), he must fast that month, and whoever is ill or on a journey, the same number (of days which one did not fast must be made up) from other days. Allah intends for you ease, and He does not want to make things difficult for you. (He wants that you) must complete the same number (of days), and that you must magnify Allah for having guided you so that you may be grateful to Him" 
[Soorah al-Baqarah (2):185]  



sumber dari: kalamullah.com

Friday, 2 August 2013

Mukizat Puasa Terhadap Kesehatan Manusia





1. Keseimbangan anabolisme dan katabolisme
Berbeda dengan kelaparan atau starvasi dalam berbagai bentuk dapat mengganggu kesehatan tubuh. Namun sebaliknya, dalam puasa ramadhan terjadi keseimbangan anabolisme dan katabolisme yang berakibat asam amino dan berbagai zat lainnya membantu peremajaan sel dan komponennya memproduksi glukosa darah dan mensuplai asam amino dalam darah sepanjang hari. Cadangan protein yang cukup dalam hati karena asupan nutrisi saat buka dan sahur akan tetap dapat menciptakan kondisi tubuh untuk terus memproduksi protein esensial lainnya seperti albumin, globulin dan fibrinogen. Hal ini tidak terjadi pada starvasi jangka panjang, karena terjadi penumpukan lemak dalam jumlah besar, sehingga beresiko terjadi sirosis hati. Sedangkan saat puasa di bulan ramadhan, fungsi hati masih aktif dan baik.

2. Tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.
Kemudian juga berbeda dengan starvasi, dalam puasa Islam penelitian menunjukkan asam amino teroksidasi dengan pelan dan zat keton tidak meningkat dalam darah sehingga tidak akan mengakibatkan pengasaman dalam darah.

3. Tidak berpengaruh pada sel darah manusia
Dalam penelitian, saat puasa tidak berpengaruh pada sel darah manusia & tidak terdapat perbedaan jumlah retikulosit, volume sel darah merah serta rata-rata konsentrasi hemoglobin (MCH, MCHC) dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

4. Puasa pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh
Puasa ramadhan pada penderita diabetes tipe 2 tidak berpengaruh dan tidak terdapat perbedaan protein gula, protein glikosilat dan hemoglobin glikosilat. Namun pada penderita diabetes tipe tertentu sebaiknya harus berkonsultasi dengan dokter bila hendak berpuasa. Diantaranya adalah penderita diabetes dengan keton meningkat, sedang hamil, usia anak atau komplikasi lain seperti gagal ginjal dan jantung.

5. Pengaruh pada Ibu hamil dan menyusui
Terdapat sebuah penelitian puasa pada ibu hamil, ibu menyusui, dan kelompok tidak hamil dan tidak menyusui di perkampungan Afika Barat. Ternyata dalam penelitian tersebut disimpulkan tidak terdapat perbedaan kadar glukosa serum, asam lemak bebas, trigliserol, keton, beta hidroksi butirat, alanin, insulin, glucagon dan hormon tiroksin.

6. Pengaruh pada janin saat ibu hami berpuasa
Penelitian di Departemen Obstetri dan Ginekologi dari Gaziantep University Hospital, terhadap 36 wanita sehat dengan kehamilan tanpa komplikasi berturut-turut dari 20 minggu atau lebih, yang berpuasa selama bulan Ramadhan untuk mengevaluasi efek Ramadan pada janin, pengukuran Doppler ultrasonografi dalam peningkatan diameter biparietal janin (BPD), peningkatan panjang tulang paha janin (FL), meningkatkan berat badan diperkirakan janin (EFBW), profil biofisik janin (BPP), indeks cairan amnion (AFI), dan rasio arteri umbilikalis sistol / diastol (S / D) rasio.
Kortisol serum ibu, trigliserida, kolesterol total, low-density lipoprotein (LDL), high density lipoprotein(HDL), very Low density lipoprotein (VLDL), dan LDL / HDL rasio juga dievaluasi sebelum dan sesudah Ramadhan. Hasil penelitian menunjukkan, tidak ada perbedaan signifikan yang ditemukan antara kedua kelompok untuk usia janin, berat badan ibu, perperkiraan kenaikan berat badan janin (EFWG), BPP janin, AFI, dan rasio arteri umbilikalis S / D.

7. Penurunan glukosa dan berat badan
Studi kohort dilakukan pada 81 mahasiswa Universitas Teheran of Medical Sciences saat berpuasa. Dilakukan evaluasi berat badan, indeks massa tubuh (BMI), glukosa, trigliserida (TG), kolesterol, lipoprotein densitas rendah (LDL), high density lipoprotein (HDL), dan Very Low density lipoprotein (VLDL), sebelum dan sesudah Ramadhan. Studi ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan menyebabkan penurunan glukosa dan berat badan. Meskipun ada penurunan yang signifikan dalam frekuensi makan, peningkatan yang signifikan dalam LDL dan penurunan HDL tercatat pada bulan Ramadhan. Tampaknya efek puasa Ramadhan pada tingkat lipid dalam darah mungkin berkaitan erat dengan pola makan gizi atau respon kelaparan biokimia.

8. Pengaruh pada fungsi kelenjar gondok
Ketika berpuasa ternyata juga terbukti tidak berpengaruh pada fungsi kelenjar gondok manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan kadar plasma tiroksin (TS),tiroksin bebas, tironin triyodium dan hormon perangsang gondok (TSH) pada penderita laki-laki yang berpuasa.

9. Pengaruh pada hormon virgisteron
Sedangkan pada penelitian hormon wanita tidak terjadi gangguan pada hormon virgisteron saat melaksanakan puasa. Tetapi, 80% populasi penelitian menunjukkan penurunan hormon prolaktin. Penelitian ini menunjukkan harapan baru bagi penderita infertilitas atau kemandulan wanita yang disebabkan peningkatan hormon prolaktin. Sehingga saat puasa, wanita tetap berpeluang besar untuk tetap pada kondisi subur.

10. Bermanfaat Bagi Jantung
Beberapa penelitian menyebutkan sebenarnya tidak terdapat perbedaan yang mencolok saat berpuasa dibandingkan saat tidak berpuasa. Puasa Ramadhan tidak mempengaruhi secara drastis metabolisme lemak, karbohidrat dan protein. Meskipun terjadi peningkatan serum uria dan asam urat sering terjadi saat terjadi dehidrasi ringan saat puasa. Saat berpuasa ternyata terjadi peningkatan HDL dan apoprotein alfa1. Penurunan LDL sendiri ternyata sangat bermanfaat bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Beberapa penelitian “chronobiological” menunjukkan saat puasa Ramadhan berpengaruh terhadap ritme penurunan distribusi sirkadian dari suhu tubuh, hormon kortisol, melatonin dan glisemia. Berbagai perubahan yang meskipun ringan tersebut tampaknya juga berperan bagi peningkatan kesehatan manusia.

11. Memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerja sel
Saat puasa terjadi perubahan dan konversi yang masif dalam asam amino yang terakumulasi dari makanan, sebelum didistribusikan dalam tubuh terjadi format ulang. Sehingga, memberikan kesempatan tunas baru sel untuk memperbaiki dan merestorasi fungsi dan kinerjanya. Pola makan saat puasa dapat mensuplai asam lemak dan asam amino penting saat makan sahur dan berbuka. Sehingga terbentuk tunas-tunas protein , lemak, fosfat, kolesterol dan lainnya untuk membangun sel baru dan membersihkan sel lemak yang menggumpal di dalam hati. Jumlah sel yang mati dalam tubuh mencapai 125 juta perdetik, namun yang lahir dan meremaja lebih banyak lagi.

12. Sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin
Penghentian konsumsi air selama puasa sangat efektif meningkatkan konsentrasi urin dalam ginjal serta meningkatkan kekuatan osmosis urin hingga mencapai 1000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air. Dalam keadaan tertentu hal ini akan memberi perlindungan terhadap fungsi ginjal. Kekurangan air dalam puasa ternyata dapat meminimalkan volume air dalam darah. Kondisi ini berakibat memacu kinerja mekanisme lokal pengatur pembuluh darah dan menambah prostaglandin yang pada akhirnya memacu fungsi dan kerja sel darah merah.

13. Dalam keadaan puasa ternyata dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Penelitian menunjukkan saat puasa terjadi peningkatan limfosit hingga sepuluh kali lipat. Kendati keseluruhan sel darah putih tidak berubah ternyata sel T mengalami kenaikkan pesat. Pada penelitian terbaru menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar apo-betta, menaikkan kadar apo-alfa1 dibandingkan sebelum puasa. Kondisi tersebut dapat menjauhkan serangan penyakit jantung dan pembuluh darah.

14. Penurunan berbagai hormon salah satu rahasia hidup jangka panjang
Penelitian endokrinologi menunjukkan bahwa pola makan saat puasa yang bersifat rotatif menjadi beban dalam asimilasi makanan di dalam tubuh. Keadaan ini mengakibatkan penurunan pengeluaran hormon sistem pencernaan dan insulin dalam jumlah besar. Penurunan berbagai hormon tersebut merupakan salah satu rahasia hidup jangka panjang.

15. Bermanfaat dalam pembentukan sperma
Manfaat lain ditunjukan dalam penelitian pada kesuburan laki-laki. Dalam penelitian tersebut dilakukan penelitian pada hormon testoteron, prolaktin, lemotin, dan hormon stimulating folikel (FSH), Ternyata hasil akhir kesimpulan penelitian tersebut puasa bermanfaat dalam pembentukan sperma melalui perubahan hormon hipotalamus-pituatari testicular dan pengaruh kedua testis.

16. Bermanfaat untuk penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis
Manfaat lain yang perlu penelitian lebih jauh adalah pengaruh puasa pada membaiknya penderita radang persendian (encok) atau rematoid arthritis. Parameter yang diteliti adalah fungsi sel penetral (netrofil) dan progresifitas klinis penderita. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat korelasi antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel penetral dalam membasmi bakteri.

17. Memperbaiki hormon testoteron dan performa seksual
Dalam sebuah jurnal endokrin dan metabolisme dilaporkan penelitian puasa dikaitkan dengan hormon dan kemampuan seksual laki-laki. Penelitian tersebut mengamati kadar hormon kejantanan (testoteron), perangsang kantung (FSH) dan lemotin (LH). Terjadi perubahan kadar berbagai hormon tersebut dalam tiap minggu. Dalam tahap awal didapatkan penurunan hormon testoteron yang berakibat penurunan nafsu seksual tetapi tidak menganggu jaringan kesuburan. Namun hanya bersifat sementara karena beberapa hari setelah puasa hormon testoteron dan performa seksual meningkat pesat melebihi sebelumnya

18. Memperbaiki kondisi mental secara bermakna
Seorang peneliti diMoskow melakukan penelitian pada seribu penderita kelainan mental termasuk skizofrenia. Ternyata dengan puasa sekitar 65% terdapat perbaikan kondisi mental yang bermakna. Berbagai penelitian lainnya menunjukkan ternyata puasa Ramadhan juga mengurangi risiko kompilkasi kegemukan, melindungi tubuh dari batu ginjal, meredam gejolak seksual kalangan muda dan penyakit lainnya yang masih banyak lagi.

19. Peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia
Manfaat puasa bagi kehidupan psikososial memegang peranan penting dalam kesehatan manusia. Dalam bulan puasa terjadi peningkatan komunikasi psikososial baik dengan Allah dan sesama manusia. Hubungan psikologis berupa komunikasi dengan Allah akan meningkat pesat, karena puasa adalah bulan penuh berkah. Setiap doa dan ibadah akan berpahala berlipat kali dibandingkan biasanya. Bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah di bulan puasa akan juga meningkatkan komunikasi sosial dengan sesama manusia baik keluarga, saudara dan tetangga akan lebih sering. Berbagai peningkatan ibadah secara langsung akan meningkatkan hubungan dengan Pencipta dan sesamanya ini akan membuat jiwa lebih aman, teduh, senang, gembira, puas serta bahagia.

20. Menurunkan adrenalin
Keadaan psikologis yang tenang, teduh dan tidak dipenuhi rasa amarah saat puasa ternyata dapat menurunkan adrenalin. Saat marah terjadi peningkatan jumlah adrenalin sebesar 20-30 kali lipat. Adrenalin akan memperkecil kontraksi otot empedu, menyempitkan pembuluh darah perifer, meluaskan pembuluh darah koroner, meningkatkan tekanan darah arterial dan menambah volume darah ke jantung dan jumlah detak jantung. Adrenalin juga menambah pembentukan kolesterol dari lemak protein berkepadatan rendah. Berbagai hal tersebut ternyata dapat meningkatkan resiko penyakit pembuluh darah, jantung dan otak seperti jantung koroner, stroke dan lainnya.


sumber dari: dzumanjipunya.wordpress.com

Bulan Tarbiyah Anak






Rasulullah SAW dan para shahabat mengenalkan puasa sejak dini pada anak. Diriwayatkan bahwa bila waktu Ashar tiba, para sahabat sibuk membujuk anak-anak yang mulai merengek meminta berbuka dengan membuatkan mereka permainan dari bulu. Tentu upaya mengenalkan puasa pada anak ini menimbang kemaslahatan kondisi anak, misalnya, kondisi kesehatan dan pentahapan dalam pengenalannya.

Secara syar’i anak-anak memang belum wajib berpuasa. Pengenalan sejak dini ini dimaksudkan agar tumbuh rasa cinta mereka pada ibadah puasa, sebagai sebuah ibadah istimewa yang Allah sebutkan dalam hadis Qudsi sebagai ibadah yang khusus untuk-Nya. Maka, cara pengenalannya pun seyogianya dengan penuh cinta.

Cinta pada Ramadhan adalah hal pertama yang harus ditumbuhkan. Berbagai keutamaan Ramadhan sebagai sayyidul syahri — penghulu bulan –merupakan informasi yang dapat membuat anak jatuh hati. Tentu informasi ini perlu dilengkapi dengan gambaran keindahan serta kenikmatan surga yang kekal. Secara ruhiy, insya Allah, keimanan anak akan tumbuh secara kokoh di hati, bersambung dengan beningnya fitrah mereka.

Kisah-kisah peri kehidupan Rasulullah dan para sahabat di bulan Ramadhan juga akan menambah khasanah wawasan dan kecintaan mereka pada ibadah puasa dan berbagai amalan utama lainnya. Misalnya, bahwa Rasulullah dan para sahabat makin tampak berbahagia di bulan Ramadhan. Senyum mereka kian mekar bertebaran, serta tegur sapa dan salam yang kian hangat di masyarakat. Mereka sadar betul bahwa Ramadhan adalah bulan cinta, bulan istimewa yang Allah jadikan sebagai tanda kasih-Nya bagi umat Islam.
Kedermawanan Rasulullah dan para sahabat di bulan Ramadhan juga melebihi hari-hari lainnya.

Diriwayatkan bahwa pemurahnya Rasulullah bagaikan angin bertiup. Maka, tak ada salahnya kita menyepakati bersama anak-anak bagaimana program infak Ramadhan keluarga dilakukan dan ke mana hendak disalurkan. Kegiatan ini bisa menjadi salah satu peristiwa yang mengasyikkan bagi anak-anak serta mengasah kepekaan sosial mereka.

Demikianlah indahnya Ramadhan dapat kita tanamkan di hati anak, menjadi kesan mendalam yang tak tergantikan sepanjang hidupnya, insya Allah. Di akhir Ramadhan, silaturahim Idul Fitri pada para sesepuh, mendidik anak untuk menghargai para orang tua, membuat mereka menjadi pemuda yang rendah hati dan santun. Semoga Ramadhan ini Allah jadikan indah bagi kita sekeluarga, dan Ramadhan yang akan datang adalah saat yang lebih indah dari saat ini. Amin.


sumber dari: jalansekolah20.wordpress.com

TATKALA SIBUK KEJAR LAILATUL QADAR




tatkala sibuk kejar lailatul qadar


tatkala sibuk kejar lailatul qadar
ada yang awal tertewas
lantaran letihnya puasa
semua dibedal waktu berbuka
sendat perut penuh terisi
ayam golek nasi briyani
air kelapa cendol pulut
jadilah ular sawa
berlingkar di tilam empuk
tatkala sibuk kejar lailatul qadar
ada yang awal tertewas
lantaran penat berniaga
mahu kejar murah rezeki
yang terhidang di bazar ramadhan
sibuk mengira untung pendapatan
terawih berlalu tiada pedulikan
rezeki masyuk lebih utamakan
tatkala sibuk kejar lailatul qadar
ada yang awal tertewas
lantaran sibuk buat persiapan
mahu gah beraya sakan
berpusu-pusu di pasaraya pilihan
tiada peduli lagi lailatul qadar
lebih utamakan lailatul kamdar
tawaf di situ berjam-jam
sari pahala tiada endahkan
tatkala sibuk kejar lailatul qadar
ramai tertewas rupanya…


sumber dari: puteraduyong.com

Memburu Lailatul Qadar




226241615.jpg
PEMBICARAAN tentang Lailatul Qadar tidak pernah selesai karena unik dan menarik. Lailatul Qadar mengandung dua pengertian. Satu, malam saat turunnya Alquran. Allah SWT, berfirman, “Inna anzalnahu fi lailatil qadri” (Sesungguhnya Aku telah menurunkannya (Alquran) itu pada Lailatul Qadar) Q.S. Al-Qadar: 1.

Lailatul qadri di sini bermakna “Malam yang penuh berkah.” Hal ini jika dihubungkan dengan firman-Nya, “Inna anzalnahu fi lailatin mubarakatain”

(Sesungguhnya Aku telah menurunkannya Alquran pada malam yang penuh berkah). Q.S. Ad-Dukhan:3. “Berkah” berarti kebaikan yang banyak.

Lailatul qadar dalam pengertian ini terjadi pada bulan Ramadan dan terjadi hanya satu kali. Allah berfirman, “Syahru Ramadana alladzi unzila fihi Alquran” (Bulan Ramadan adalah bulan yang padanya diturunkan Alquran) Q.S. Al-Baqarah:185. Tentang tanggalnya masih ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) di antara para ulama, sebagian besar ulama menyatakan Lailatul Qadar itu terjadi pada tanggal 17 Ramadan. Hal ini didasarkan pada firman Allah, “In kuntum amantum billahi wa ma anzalna ‘ala ‘abdina yaumal furqan, yaumaltaqal jam’ani” (Jika kamu beriman kepada Allah dan terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami pada hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan) Q.S. Al-Anfal:41. Yang dimaksud dengan “hari pertemuan dua pasukan” yaitu saat terjadinya Perang Badar, yang diyakini terjadi pada hari Jumat tanggal 17 Ramadan tahun kedua Hijriah.

Sahabat Ibnu Abbas r.a. menjelaskan bahwa Alquran yang diturunkan pada Lailatul qadar pada bulan Ramadan (dari Lauh Mahfudz) ke langit dunia sekaligus atau seluruhnya; baru kemudian secara berangsur diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. (R. At-Thabrani) .

Kedua, Lailatul qadar dalam pengertian sebuah malam penuh berkah yang datang pada setiap bulan Ramadan. Pengertian ini didasarkan kepada hadis yang berbunyi, “Suila Rasulullah saw. ‘an lailatul qadri, Fa qala, hiya fi kulli Ramadana” (Nabi saw. ditanya tentang Lailatul qadar, baliau menjawab, lailatul qadar ada pada setiap bulan Ramadan) H.R. Abu Daud.

Mengenai Lailatul qadar dalam pengertian ini tidak ditemukan keterangan yang menunjukkan tanggal yang pasti. Menurut sahabat Ubadah bin Shamit dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari, Nabi saw. pada suatu hari ke luar menemui para sahabatnya untuk memberi tahu tentang kapan Lailatul qadar itu adanya, tapi karena ada dua orang sahabat yang malah ribut, maka beliau tidak jadi memberitahukannya, beliau malah akhirnya menganjurkan, “Faltamisuha fit tasi’ati, was-sabta’ati, wal-khamisati” (Carilah olehmu pada tanggal 21 atau 23 atau 25).

Di hadis lain dari Siti Aisyah riwayat Imam Al-Bukhari, Nabi saw. memerintahkan, “Taharrau lailatul qadri fil-witri minal ‘asyril awakhiri min Ramadhana” (Carilah Lailatul qadar itu pada tanggal-tanggal gasal dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan). Menurut riwayat Imam Muslim dijelaskan bahwa Nabi saw. jika memasuki sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan beliau meningkatkan kegiatannya, menghidupkan malamnya dengan mengurangi tidur dan membangunkan keluarganya. Malah beliau menyunatkan untuk berkitikaf di masjid selama sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan.

Di antara hikmah tidak diberitahukannya tanggal yang pasti tentang Lailatul qadar ini mungkin tidak lepas dari karakteristik ajaran Islam yang memotivasi umatnya untuk rajin bekerja dan beribadah, seperti diperintahkan Allah, “Fa idza faraghta fanshab” (Apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka carilah urusan yang lain) Q.S. Al-Insyirah: 7.

Bisa dibayangkan jika Nabi saw. waktu itu jadi memberitahu tentang tanggal yang pasti datangnya Lailatul qadar itu, mungkin akan terjadi banyak orang yang melaksanakan salat tarawih, tadarus dan sebagainya hanya pada malam itu saja.

Tentang fadilah atau keutamaan dan berkah Lailatul qadar antara lain:

(a) Nabi saw. bersabda, “Barang siapa yang melaksanakan salat qiyamu Ramadhan (salat tarawih) pada malam Lailatul qadar dengan dasar iman dan mengharap rida Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu”. (H.R. Al-Bukhari);

(b) Nabi saw. bersabda, “Apabila datang Lailatul qadar, Malaikat Jibril bersama malaikat lainnya turun ke bumi mendoakan kepada setiap hamba yang berzikir dan berdoa kepada Allah, Allah menyatakan kepada para malaikat bahwa Allah akan memenuhi doanya. Allah berfirman, “Pulanglah kamu sekalian, Aku telah mengampuni dosa kalian dan Aku telah mengganti kejelekan dengan kebaikan”. Maka mereka pulang dan telah mendapatkan ampunan-Nya. (H.R. Al-Baihaqi dari Anas bin Malik)

Kedua hadis itu menunjukkan kepada kita bahwa bagi yang melaksanakan salat tarawih, memperbanyak zikir, doa dan istighfar, bertepatan Lailatul qadar dengan hati yang ikhlas, dengan cara yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. dan dengan khusyuk, insya Allah baginya akan mendapatkan ampunan-Nya. Sesuatu yang senantiasa menjadi harapan dan dambaan setiap insan mukmin. Karena dengan ampunan-Nya itulah seseorang akan mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki dan abadi, yakni kebahagiaan di akhirat kelak.

Tidak diketemukan keterangan yang sahih dan sharikh (jelas) tentang ciri-ciri atau tanda-tanda bahwa malam itu adalah Lailatul qadar, kecuali hadis riwayat Muslim yang menyatakan bahwa jika malam itu adalah Lailatul qadar maka pagi harinya matahari terbit dengan cuaca yang cerah. Artinya baru diketahui setelah Lailatul qadar itu lewat. Hikmah dari dirahasiakannya Lailatul qadar ini antara lain kita didorong dan dimotivasi untuk mengisi malam-malam Ramadan khususnya pada sepuluh hari terakhir dengan berbagai amal saleh seperti, tarawih, tadarus Alquran, doa dan istighfar.

Siti Aisyah pernah bertanya kepada Nabi saw. tentang doa yang bisa dibaca jika bertemu dengan Lailatul qadar, Nabi saw. menyuruhnya untuk membaca, “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibbul ‘afwa fa’ fu ‘anni” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai sifat pemaaf, maka maafkanlah segala dosa hamba) -H.R. Ahmad-

Kita berhaarap dan memohon ampunan Allah serta bimbingan inayah dan rahmat-Nya semoga kita diberi kekuatan dan kemampuan mengisi bulan Ramadan ini baik siang maupun malamnya dengan berbagai amal ibadah dari awal sampai berakhirnya bulan suci ini, dan dijadikan sebagai wasilah kita diampuni segala kealpaan dan dosa kita.

Amien! Wallahu a’lamu bish-shawwab. ***


sumber dari: jalansekolah20.wordpress.com

Tanda-Tanda Malam Lailatul Qadar






Di antara kita mungkin pernah mendengar Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurofat dan keyakinan bathil seputar tanda-tanda lailatul qadar, di antaranya : pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah asin, anjing-anjing tidak menggonggong, dan beberapa tanda yang jelas bathil dan rusak.

Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda di atas sudah jelas kebathilannya karena tidak adanya dalil baik dari al-Quran ataupun hadist yang mendukungnya.

Lalu bagaimanakah tanda datangnya malam Lailatul Qadar yang benar berkenaan dengan malam yang mulia ini? Nabi shallallahu’alaihi wassalam pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar, yaitu:

1. Udara dan suasana pagi yang tenang

Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)

2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya

Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)

3. Terkadang terbawa dalam mimpi

Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum.

4. Bulan nampak separuh bulatan

Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata :
“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)

5. Suasana malam itu terasa sejuk dan nyaman

Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)
Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam :
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)

6. Hati menjadi tenang saat ibadah di malam itu

Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.

Wallahua’lam :)


sumber dari: isdaryanto.com

Sunnah Ramadhan; Amalam Lailatul Qadar






Bersungguh-sungguh pada malam al-Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan:

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Maksudnya: Siapa bangun malam keagungan dengan keimanan dan pengharapan akan diampunkan untuknya dosanya yang terdahulu.
(HR al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab Qiyam Lailah al-Qadr Min al-Iman, No. 34.)

Di malam al-Qadr bacalah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Maksudnya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, sukakan kemaafan, maka maafkanlah aku.
(HR Ibnu Majah. Kitab al-Du‘a, Bab al-Du‘a Bi al-‘Afw Wa al-‘Afiyah, No. 3840. Dihukum Sahih oleh al-Albani dalam Sahih Ibnu Majah, No. 3119)
- Tanda malam al-Qadar:

عَنْ زِرٍّ قَالَ سَمِعْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُ وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا
Maksudnya: Daripada Zirr katanya ‘Aku mendengar Ubay bin Ka‘b berkata apabila dikatakan kepadanya bahawa Abdullah bin Mas‘ud berkata ‘Siapa bangun sepanjang tahun dia akan dapat malam keagungan.’ Ubay berkata ‘Demi Allah yang tiada tuhan yang hak selainnya, malam itu di dalam Ramadhan.’ Beliau bersumpah tanpa pengecualian. ‘Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam manakah ia. Ianya ialah malam yang Nabi s.a.w. perintahkan kami bangun padanya. Ianya ialah malam pagi 27. Tandanya ialah matahari terbit pada paginya putih tanpa cahaya silau.


sumber dari: drfadlanothman.wordpress.com

Peristiwa Sejarah Bulan Ramadhan




Bulan Ramadhan bukan hanya terkenal sebagai pusat latihan ibadah kepada umat Islam, malah ia juga terkenal dengan peristiwa besar dalam sejarah Islam antaranya :

Bulan Diturunkan Al-Kitab

Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan. Bulan yang diturunkan di dalamnya (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk untuk manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pemisah antara yang benar dan salah.

Para pakar tafsir dan hadis merekodkan, Allah juga menurunkan kitab-kitab dan suhuf iaitu kitab-kitab kecil selain Zabur, Taurat, Injil dan Al Quran kepada para rasul terdahulu pada bulan Ramadhan.

Peristiwa Peperangan Badar

Pada hari Jumaat 2 Ramadhan tahun ke-2 Hijrah berlakunya perang pertama dalam Islam yang dikenali Perang Badar. Badar adalah nama tempat di sebuah lembah yang terletak di antara Madinah dan Mekah. Tentera Islam mengawal lokasi strategik dengan menguasai sumber air yang terdapat di situ.

Perang ini melibatkan tentera Islam seramai 313 anggota berhadapan dengan 1,000 anggota tentera musyrikin Mekah yang lengkap bersenjata. Dalam peperangan ini, tentera Islam memenangi pertempuran dengan 70 tentera musyrikin terbunuh, 70 lagi ditawan manakala bakinya melarikan diri.

Peperangan ini adalah suatu yang luar biasa apabila tentera Islam yang kurang jumlah, lemah daripada sudut kelengkapan dan berpuasa dalam bulan Ramadhan memenangi pertempuran Perang Badar. Ini membuktikan puasa bukan penyebab umat Islam bersikap lemah dan malas sebaliknya berusaha demi mencapai keredhaan Allah. Orang yang berjuang demi mencapai kerdhaan Allah pasti mencapai kemenangan yang dijanjikan. Allah menegaskan dalam Surah Aali ‘Imran ayat 123 hingga 125.

“Sesungguhnya Allah menolong kamu dalam Perang badar, sedangkan pada masa itu kamu orang yang lemah. Sebab itu bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mensyukurinya.”

Kota Mekah
Pembukaan Kota Mekah

Peristiwa ini berlaku pada 10 Ramadhan tahun ke-6 Hijrah. Peristiwa kemuncak ini berlaku apabila musyrikin Mekah melanggar perjanjian Hudaibiah yang termeterai dengan orang islam. Antara kandungan perjanjian ini menyebut, setiap suku Arab boleh memilih sama ada menjadi sekutu Muhammad ataupun sekutu Quraisy. Kedua-dua pihak tidak boleh berperang dalam tempoh 10 tahun dan tidak boleh membantu pihak lain berperang.

Malangnya, dalam suku-suku Arab yang bersekutu itu, ada golongan yang bertelagah iaitu Bani bakar dan Khuza’ah. Bani Bakar bersekutu dengan Quraisy Mekah manakala Khuza’ah memilih bersekutu dengan Nabi Muhammad.

Pada satu malam, Bani Bakar dengan pertolongan Quraisy Mekah menyerang perkampungan suku Khuza’ah di lembah Watir. Apabila berita itu sampai ke pengetahuan Nabi Muhammad, beliau mengerahkan ratusan ribu umat Islam mara ke Mekah tanpa pengetahuan penduduk musyrikin Mekah. Beliau menolak sebarang rundingan dengan pihak Quraisy sehingga kemaraan umat Islam hanya diketahui apapbila hampir memasuki Kota Mekah. Penduduk musyrikin menjadi jumlah yang kecil tanpa sebarang persiapan hanya bersembunyi di bukit, rumah ibadat dan rumah Abu Sufian.

Akhirnya umat Islam memasuki kota Mekah tanpa sebarang pertumpahan darah. Peristiwa ini menggambarkan pertolongan Allah kepada hamba-hamba yang ikhlas kepadaNya. Allah menyebut dalam Al Quran Surah Al Fath ayat 1:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”
Sebahagian pakar tafsir Al Quran memberi maksud ‘kemenangan’ dengan kemenangan bermaksud membuka Mekah.

Perjalanan Nabi Muhammad S.A.W Ke Tabuk

Apabila pengaruh Nabi Muhammad SAW tersebar ke pelosok Semenanjung Tanah Arab, ia memberikan tamparan hebat kepada Rom yang menjadi kuasa besar pada masa itu. Lantas Herkules, Maharaja Rom Timur (Bizantin) memutuskan bagi menyekat pengaruh umat Islam dengan utara Tanah Arab.

Apabila berita itu samapai ke pengetahuan Nabi Muhammad SAW, beliau mengarahkan umat Islam berkumpul bagi menghadapi Rom dan mengutip zakat. Pada masa itu tanah Arab dilanda panas dan kesusahan. Iman umat islam ketika itu benar-benar teruji. namun, mereka tetap taat kepada perintah Nabi Muhammad. Beliau sendiri memimpin tentera seramai 30,000 anggota ke utara Madinah.

Apabila tentera Islam tiba di Tabuk, tentera Rom tidak berada di situ. Sebaliknya Rom menarik diri apabila mengetahui kemaraan tentera Nabi Muhammad SAW yang ramai. Tentera Islam terus mengasak Rom sehingga termeterai perjanjian antara Islam dan Rom. Sebagai persetujuan, Rom tunduk dan bernaung di bawah pemerintahan Nabi Muhammad SAW dan dikenakan cukai sebanyak 3,000 dinar setiap tahun.
Ini antara peristiwa-peristiwa besar yang berlaku dalam bulan Ramadhan. Banyak lagi peristiwa yang berlaku pada bulan Ramadhan yang untuk mengetahuinya memerlukan labih pembacaan buku-buku sejarah atau kitab-kitab sirah. Di bulan yang mulia ini, sama-sama kita meningkatkan amalan kita dengan mengambil semangat dari kisah2 nabi dan para sahabat yang berjuang mempertahankan Islam di dalam keadaan mereka berpuasa, menahan lapar dahaga, tidak lain, semata-mata mencari keredhaan Allah. Semoga Ramadhan kali ini lebih baik dari sebelumnya.



sumber dari: wanfauzi.com

MENCARI LAITATULQADAR






Setahun berlalu
Ramadan kini kembali
Misinya macam biasa

Sebagai penyelamat dan pembersih hati
Bersamanya rahmat dan berkat
Tuhan sekelian alam

Setiap bulan Ramadan
Pasti ada Lailatulqadar
Malam yang didambakan setiap insan
Harap-harap dipertemukan

Kumohon ampunanMu dalam berjuta harap
Kujemput rahmatMu dalam setiap lafaz ayat-ayat suci
Kunanti pahalaMu di setiap hembusan nafasku
Berharap keajaiban Lailatul Qadar datang menghampiri

Jika Lailatul Qadar milikku
Kusujud syukur di hadapan Tuhanku
Menangis memohon kehidupan indah buatku
Agar menjadi hamba Allah yang setia selalu


sumber dari: ayat-ayatcintaaac.blogspot.com

Hikmah Disembunyikan Malam Lailatul Qadr




Lailatul Qadar


1. Ia bertujuan untuk mengagungkan bulan Ramadhan keseluruhannya supaya manusia beribadah kepada Allah S.W.T. bukan memilih kepada malam-malam tertentu. Samalah keadannya apabila Allah S.W.T. menyembunyikan keredhaanNya dalam ketaatan hamba kepadaNya agar hamba tersebut melakukan semua ketaatan demi mendapatkan redha tuhannya.

2. Mengajar manusia supaya bersungguh dalam mengerjakan ibadah kepada Allah S.W.T. dalam malam-malam yang ditempuhi di bulan Ramadhan. Hal ini kerana mereka tidak mengetahui malam Lailatul Qadar yang sebenar, yang seterusnya akan meningkatkan semangat mereka dalam melaksanakan ibadah dalam bulan ini pada setiap malam.

3. Menambah ganjaran disebabkan sikap bersungguh yang ada dalam mendapatkan malam tersebut selain ganjaran ibadah yang dilakukan. Hal ini berbeza dengan ibadah yang dikerjakan tanpa kesungguhan disebabkan telah mengetahui malam manakah berlakunya Lailatul Qadar.

Kelebihannya : Hadis Nabi S.A.W. :

من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

(Barangsiapa yang menghidupkan malam Al-Qadr dengan penuh keimanan dan pengharapan, akan diampunkan dosanya yang telah lalu).

Antara Amalan Yang Digalakkan :

1. Berdoa :

اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني

Ertinya : Ya Allah, Engkau yang Maha Pengampun dan Maha Mulia. Engkau sememangnya suka mengampunkan (kesalahan) maka ampunilah aku.

2. I’tikaf pada 10 malam yang terakhir, moga-moga ia akan diperolehi pada salah satu daripadanya.

3. Memperbanyakkan ibadah seperti solat-solat sunat, membaca Al-Quran, berzikir dan sebagainya.

Antara Petanda Malam Lailatul Qadar : Malamnya tenang, tidak panas atau sejuk dan lautan tidak bergelora. Juga suara anjing menyalak tidak kedengaran dan apabila tiba keesokan harinya sinaran matahari kurang memancarkan cahayanya seolah-olah keadaan pagi tersebut seperti berkabus.

*Digalakkan apabila seseorang melihat petanda ini pada pagi keesokan harinya untuk memperbanyakkan doa dan ibadah sepertimana pada malam harinya.



sumber dari: wanfauzi.com

Lailatul Qadar Malam Seribu Bulan




malam Lailatul Qadar


Lailatul Qadar atau Malam Al-Qadr merupakan suatu malam yang dikhususkan kepada umat Nabi Muhammad S.A.W. Sebahagian ulama’ menyebut bahawa ia adalah malam yang berlaku sekali pada setiap Ramadhan sehingga hari kiamat, bukannya hanya sekali ketika zaman wahyu diturunkan.

Diriwayatkan oleh Atha’ daripada Ibnu Abbas r.a. bahawa beliau menceritakan kepada Nabi S.A.W. tentang seorang lelaki Bani Israel yang berjuang di jalan Allah S.W.T. selama seribu bulan. Nabi S.A.W. sangat kagum mendengar khabar tersebut dan baginda berharap agar umatnya diberikan beberapa kelebihan.

Baginda bersabda : Wahai Tuhan, Engkau telah menjadikan umatku pendek umurnya, dan sedikit amalnya. Maka Allah S.W.T. mengurniakan Lailatul Qadar yang lebih baik daripada seribu bulan iaitu tempoh lelaki Bani Israel tersebut yang berjuang di jalan Allah kepadamu dan umatmu sehingga hari kiamat”.

Sebahagian Sejarawan Islam menyebutkan bahawa seorang lelaki pada zaman dahulu tidak dinamakan sebagai ‘abid (orang yang melakukan ibadah) melainkan jika dia beribadah kepada Allah S.W.T. selama seribu bulan. Maka Allah S.W.T. mengurniakan kepada umat Nabi S.A.W malam Lailatul Qadar, apabila mereka menghidupkannya adalah lebih layak digelar sebagai ‘abid berbanding ‘abid pada zaman dahulu.
Pendapat yang paling tepat ialah malam lailatul qadar dikurniakan kepada umat nabi Muhammad S.A.W. sehingga hari kiamat, bukannya sekali sahaja ketika zaman Nabi S.A.W. kerana hadith-hadith shohih menerangkan ia berlaku pada beberapa malam yang berlainan dan ini tidak akan berlaku melainkan tempohnya berterusan sehingga ke hari kiamat.

Kenapa Dinamakan Malam Al-Qadr?

Maksud Al-Qadr dapat diterjemahkan kepada dua makna :

1. Kedudukan yang tinggi seperti apabila kita menyebutkan di dalam bahasa Arab – فلان ذو قدر iaitu “dia seorang yang mempunyai kedudukan yang tinggi”.

2. Penentuan hukum dan pemberian hak manusia. Hal ini kerana pada malam Lailatul Qadar Allah S.W.T. menurunkan Al-Quran dari Luh Mahfuz ke langit dunia yang di dalamnya terkandung pelbagai hukum dan panduan kehidupan manusia.

Waktu Berlakunya Malam Al-Qadr

Perselisihan para ulama’ kemudiannya tertumpu kepada beberapa perkara :

1. Adakah ia hanya berlaku dalam bulan Ramadhan?

• Kebanyakan mereka mengatakan ia hanya khusus pada bulan Ramadhan berdasarkan firman Allah S.W.T. :

شهر رمضان الذي أنزل فيه القرءان

Ertinya : Bulan Ramadhan yang diturunkan padanya Al-Quran.

Firman Allah S.W.T. lagi :

إنا أنزلنه في ليلة القدر

Ertinya : sesungguhnya kami menurunkannya (Al-Quran) pada malam Al-Qadr.
Maka berdasarkan dua ayat ini, malam Lailatul Qadar adalah malam yang diturunkan padanya Al-Quran.

• Sebahagian Mereka mengatakan ia berlaku bukan sahaja dalam bulan Ramadhan malah turut berlaku dalam bulan-bulan yang lain.

2. Perselisihan seterusnya pada pendapat pertama yang mengatakan ia berlaku dalam bulan Ramadhan : Adakah ia berada pada malam-malam dalam bulan ini atau hanya di 10 malam yang terakhir?

• Sebahagian Ulama’ mengatakan ia berlaku pada malam-malam dalam bulan Ramadhan.


• Kebanyakan Mereka menyebut ia berlegar sekitar sepuluh malam terakhir khususnya pada malam-malam yang ganjil.



sumber dari: wanfauzi.com

Saturday, 27 July 2013

Indahnya Ramadhan Bersama Al Qur’an






Allah ta’ala berfirman (yang artinya), 

Ingatlah, bahwa dengan berdzikir kepada Allah maka hati akan menjadi tenang. 
(QS. Ar-Ra’d: 28). 

Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan berdzikir kepada Allah dalam ayat ini adalah Kitab-Nya. Yaitu, tatkala seorang mukmin mengetahui kandungan hukum dari ayat-ayat Allah yang menunjukkan kepada kebenaran maka hatinya pun merasakan ketentraman. Sebab hatinya tidak bisa merasakan ketentraman tanpa ilmu dan keyakinan, sementara ilmu dan keyakinan itu bisa diperoleh dengan memperhatikan Kitabullah tersebut (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 418 cet. Ar-Risalah) Membaca dan merenungkan ayat-ayat al-Qur’an adalah bagian dari dzikir. Sementara kedudukan dzikir bagi seorang insan laksana air bagi seekor ikan. Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengatakan“Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Apakah yang akan terjadi jika ikan dipisahkan dengan air? 

Bagaimana mungkin seorang hamba mengaku mencintai Allah, sementara hati dan lisannya kering dari mengingat dan memuji-Nya?! Demikianlah yang telah dipraktekkan oleh salafus shalih. Mereka adalah suatu kaum yang mengagungkkan Kitabullah dengan semestinya. Mereka tidak hanya mengimani al-Qur’an sebagai bacaan ataupun wahyu dari sisi-Nya, tetapi mereka juga menerapkan ajarannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan jika mereka mendapatkan predikat generasi terbaik umat ini. Gelar yang layak mereka sandang, sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dari ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu’anhu

Para sahabat radhiyallahu’anhum telah menjadi teladan bagi generasi berikutnya dalam menjadikan al-Qur’an sebagai jalan hidup mereka. Oleh sebab itu mereka pun mulia di sisi Allah karena ketakwaan mereka, kedalaman ilmu mereka, amal salih mereka, dan kecintaan mereka yang teramat besar terhadap Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat kedudukan sebagian kaum dengan Kitab ini dan akan merendahkan sebagian yang lain dengan Kitab ini pula.” (HR. Muslim dari ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu’anhu) Mereka adalah sebuah generasi yang telah ridha terhadap Allah, Islam dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka tidak rela untuk menjual keimanan dan tauhid yang mereka miliki dengan kenikmatan dunia apapun. Mereka lebih memilih disiksa daripada harus menuruti kemauan thaghut dan dedengkot kekafiran. Seperti Bilal bin Rabah radhiyallahu’anhu yang rela tubuhnya tersengat teriknya panas padang pasir dan kesakitan di bawah tindihan batu dengan kalimat ‘Ahad, Ahad’ yang terus mengalir dari bibirnya yang mulia. Itulah manisnya iman yang mereka gapai dengan segenap pengorbanan dan perjuangan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim dari al-’Abbas bin Abdul Muthallib radhiyallahu’anhu

Para sahabat hidup di bawah naungan al-Qur’an. Sehingga ayat-ayat suci itu mewarnai hidup dan kehidupan mereka, mewarnai hati dan tingkah laku mereka. Tidak sebagaimana kaum Khawarij yang hanya menjadikan al-Qur’an sebagai hiasan di bibir dan lisan mereka. Akan tetapi, pemikiran dan keyakinan mereka melesat dari agama sebagaimana melesatnya anak panah menembus sasarannya. Kaum Khawarij itulah -meskipun mereka memiliki banyak hafalan al-Qur’an dan bersungguh-sungguh dalam beribadah- kelompok orang yang mendapatkan celaan keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lah yang disebut sebagai anjing-anjing neraka. Sejelek-jelek manusia dan seburuk-buruk kaum yang terbunuh di bawah kolong langit ini. Bahkan, bagi orang yang berhasil membunuh mereka Nabi janjikan pahala yang besar di sisi Allah pada hari kiamat kelak. 

Para sahabat radhiyallahu’anhum tidak memandang al-Qur’an sebagai kumpulan dongeng atau cerita pelipur lara belaka. Bahkan, mereka menjadikan al-Qur’an sebagai undang-undang kehidupan mereka dalam hidup bermasyarakat dan bernegara, dalam hidup individu dan rumah tangga. Mereka pun tidak menganggap bahwa masa berlakunya hukum-hukum Kitabullah hanya untuk dua atau tiga generasi saja. Bahkan, al-Qur’an itu cocok dan sesuai dengan segala masa dan suasana. Oleh sebab itu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berpesan, “Ikutilah tuntunan dan janganlah kalian mengada-adakan ajaran baru, karena sesungguhnya kalian telah dicukupkan.” 

Para sahabat radhiyallahu’anhum menjadikan al-Qur’an sebagai sesuatu yang harus diyakini dan diamalkan, bukan sesuatu yang harus diragukan apalagi untuk diperdebatkan! Mereka sangat yakin bahwa al-Qur’an adalah sebaik-baik pembicaraan, sejujur-jujur perkataan, dan sebaik-baik petunjuk bagi kemanusiaan. Ia diturunkan dari sisi Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Tidaklah datang kepadanya kebatilan, dari arah depan, maupun dari arah belakang. 

Seandainya seluruh manusia bersatu padu untuk membuat sesuatu yang serupa dengannya, niscaya mereka akan gagal dan tidak sanggup melakukannya, meskipun mereka bahu-membahu dan saling membantu satu dengan yang lain. Tidak mungkin mereka bisa menandingi mukjizat yang agung ini. Inilah kemuliaan al-Qur’an yang akan membuat tentram dan sejuk hati insan beriman. Dan sebaliknya, ia tidak akan mendatangkan pengaruh kepada orang-orang yang zalim kecuali kerugian dan kebencian. Salafus shalih telah memberikan teladan kepada kita dalam mewarnai bulan yang mulia ini dengan interaksi yang intensif bersama al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri setiap tahunnya menyetorkan hafalan al-Qur’an kepada Jibril ‘alaihis salam di setiap malam di bulan Ramadhan. 

Demikian pula salafus shalih, mereka memperbanyak membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan, di dalam maupun di luar sholat. Az-Zuhri rahimahullah berkata apabila telah masuk bulan Ramadhan, an.Sesungguhnya ini adalah kesempatan untuk membaca al-Qur’an dan memberikan makan Imam Malik rahimahullah, apabila telah datang bulan Ramadhan maka beliau menutup majelis hadits dan mengkhususkan diri untuk membaca al-Qur’an dari mushaf. Qatadah rahimahullah pada bulan Ramadhan mengkhatamkan al-Qur’an setiap tiga malam, sedangkan pada sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkannya setiap malam. Begitu pula Ibrahim an-Nakha’i rahimahullah, pada sepuluh hari terakhir beliau mengkhatamkan al-Qur’an setiap dua malam (lihat Majalis Syahri Ramadhan karya Syaikh Utsaimin, hal. 26-27 cet. Dar al-’Aqidah

Wahai saudaraku, ucapan manusia… Telah membuat kita lupa akan ucapan Rabb kita Kita sibuk dengan perkataan si fulan atau ‘allan Sementara kita lalai dari nasehat dan bimbingan ar-Rahman Saudaraku, bulan penuh berkah ada di hadapan Jangan sampai ia berlalu sedangkan kita terus tenggelam dalam kelalaian Ya Allah, Ya Rabbi, pertemukanlah kami dengan bulan itu Larutkanlah kami dalam malam-malam indah bersama-Mu…


sumber dari: ustadchandra.wordpress.com

Salam Nuzul Al-Quran






Ucapan Selamat Menyambut Nuzul Al-Quran
kepada
semua penganut Agama Islam




sumber dari: smktsea.com

Ramadhan Yang Mulia




Blue ocean horizon moon ships night sky wallpaper


Dalam mengkaji hikmat dan kelebihan bulan Ramadan yang merupakan bulan ujian dan latihan bagi umat Islam, kita akan bertemu dengan beberapa peristiwa penting yang berlaku ke atas umat Islam umumnya dan ke atas Nabi s.a.w. sendiri khususnya. Peristiwa-peristiwa itu beralaku seolah-olah ada ketentuan-ketentuan khusus dari Ilahi bahawa bulan suci ini tidak sahaja bulan amal ibadah tetapi juga bulan jihad dan bulan mengujui kesabaran kita umat Islam.

Dari fakta-fakta sejarah, terdapat beberapa peristiwa penting yang belaku pada bulan ini , di antaranya ialah:-
  1. Pada 17 Ramadan, turun wahyu yang pertama daripada Allah iaitu surah Al Alaq ayat 1 hingga 5. Turunnya wahyu ini menandakan rasmilah Nabi Muhammad s.a.w. menjadi nabi terakhir bagi umat ini, 
  2. Dalam bulan Ramadan juga iaitu pada tahun ke 10 selapas Nabi s.a.w. dilantik menjadi Rasul, bapa saudaranya, Abu Talib yang banyak memberi bantuan dan membelanya telah meninggal dunia. Tidak lama selepas itu, dalam bulan dan tahun yang sama, isteri Baginda s.a.w. yang banyak berjasa iaitu Ummul Mukminin Khadijah binti Khualid r.a. juga telah wafat. Dua peristiwa besar ini menjadikan tahun itu dikenali dengan tahun berdukacita atau 'Amul Hazan. 
  3. Pada tanggal 17 Ramadan tahun kedua Hijrah, terjadi pula Peperangan Badar. Dalam peperangan ini pertama kali kaum muslimin mendapat kemenangan dan ia telah membuka era baru kebangkitan umat Islam menghapuskan kesesatan ummat muslimin menghapuskan kesesatan ummat musyrikin. Pada bulan Ramadan tahun ini juga diwajibkan Zakat Fitrah. 
  4. Pada bulan Ramadan tahun ketujuh Hijrah, Rasulullah s.a.w. mengirim beberapa angkatan Islam untuk meruntuhkan berhala-berhala Musyrikin yang terbesar dan masyhur iaitu berhala 'Uzza, Siswa dan Mana. 
  5. Pada 21 Ramadan tahun 8 Hijrah, Allah s.w.t. memberi ni'mat kepada RasulNya dan muslimin dengan pembukaan dan penaklukan Kota Mekah. 
  6. Dalam bulan Ramadan tahun kesepuluh Hijrah Rasulullah SAW mengirim Ali bin Abi Thalib dengan satu angkatan kaum Muslimin ke negeri Yaman dan membawa bersama surat dari Rasulullah kepada penduduk Yaman, terutama Kabilah Hamdan, dalam masa satu hari sahaja penduduk Yaman khususnya Kabilah Hamdan memeluk Islam dan sembahyang dengan Ali bin Abi Thalib. 
  7. Siti Fatimah binti Rasul, isteri kepada Saidina Ali bin Thalib dan ibu kepada Hassan dan Hussain, wafat pada Ramadhan tahun kesebelas Hijrah . 
  8. Ramadhan tahun kesembilan Hijrah datang rombongan dari daerah Thaif ke kota Madinah menemui baginda Rasulullah untuk memeluk Islam, mereka membayar zakat dan melakukan bersama kaum Muslimin Madinah. 
  9. Dalam Ramadhan tahun yang sama, datang pula utusan dari kerajaan Hummir menemui baginda Rasulullah dan memaklumkan kepada baginda mengenai keislaman kerajaan Hummir dan disambut dengan penuh kehormatan oleh baginda. Rasulullah menyerahkan kepada perutusan itu satu catatan dan garis panduan mengenai hukum, hak dan kewajipan serta dasar-dasar dari sejarah kemajuan dan perkembangan Islam. 
  10. Pada Ramadhan tahun kelima belas Hijrah terjadi peperangan Qadisiah, di mana umat Islam mendapat kemenangan dari kekuasaan kerajaan Parsi, dengan kemenangan umat Islam itu, maka berkibarlah bendera kedaulatan Islam di bumi Parsi. Sementara pada Ramadhan tahun kesembilan belas, pada hari Jumaat satu kemenangan kepada tentera Islam di bawah pimpinan Umar Ibnul 'Ash menghadapi tentangan tentera Mesir. 
  11. Seramai empat ribu orang tentera Mesir menyerbu umat Islam dan menyerang mereka yang sedang mengerjakan sembahyang Jumaat, kemudian tentera Islam dengan persediaan dan kekuatannya membalas serangan itu sehinggalah kemenangan di tangan tentera-tentera Islam. 
  12. Di malam Jumaat pula tahun keempat puluh Hijrah 15 haribulan Ramadhan Khalifah keempat dari Khulafaur-Rashidin Ali Ibnu Abi Thalib ditikam curi ketika baginda keluar dari rumahnya untuk berjemaah sembahyang Subuh. Akibat dari luka itu, baginda wafat pada malam ketujuh belas Ramadhan dua hari berikutnya. 
  13. Pada Ramadhan tahun kesembilan puluh satu Hijrah kaum Muslimin mendarat di pantai selatan tanah Andalusia, dan mendapat tentangan dari pengawal benteng di selatan tanah Portugis itu. Setahun sesudah itu, iaitu pada tahun 92 Hijrah, Thariq bin Ziad yang mengetuai satu barisan tentera Islam telah mengalahkan pasukan raja Rudrik dalam pertempuran yang menentukan kemenangan Islam. 
  14. Pada bulan Ramadhan tahun 584 Hijrah, panglima Salahuddin Al-Ayubi mencapai kemenangan yang besar dan mengalahkan pasukan-pasukan Salib pada beberapa medan pertempuran, serta membebaskan sebahagian besar daerah yang telah diduduki oleh tentera Salib. 
  15. Pada mulanya tentera Salahuddin mencadangkan supaya tentera-tentera Islam berehat sahaja di bulan puasa itu, tetapi sebaliknya ia merasakan tindakannya itu bertentangan dengan hukum ajal dan lalu berkata "Sesungguhnya umur kita pendek sedangkan ajal tidak dapat dijamin", dengan itu diaturnya pasukan penyerang, hinggalah kubu dan benteng pertahanan musuh dapat ditawan pada pertengahan Ramadhan, yang akhirnya mencapai kemenangan di tangan kaum Muslimin. 
Demikianlah beberapa petikan sejarah di bulan Ramadhan, apa yang kita harapkan kepada Allah biarlah Ramadhan yang kita lalui juga dipenuhi dengan kemenangan dan rahmat Allah SWT kepada kaum Muslimin yang menunaikannya. Marilah kita lalui baki Ramadan yang ada ini dengan sepenuh keimanan dan sabar dalam menghadapi dugaan dan ujian Allah

والله أعلم بالصواب


sumber dari: alkhudhri.com

Nuzul Al-Quran Dan Lailatul Qadar




Pelita-Hati


Peristiwa nuzul al-Quran menjadi satu rakaman sejarah dalam kehidupan Nabi SAW hingga seterusnya berperingkat-peringkat menjadi lengkap sebagaimana kitab al-Quran yang ada pada kita hari ini. Peristiwa Nuzul al-Quran berlaku pada malam Jumaat, 17 Ramadan, tahun ke-41 daripada keputeraan Nabi Muhamad SAW. Perkataan ‘Nuzul’ bererti turun atau berpindah dari atas ke bawah. Bila disebut bahawa al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi SAW maka ianya memberi makna terlalu besar kepada umat Islam terutamanya yang serius memikirkan rahsia al-Quran.

‘Al-Quran’ bererti bacaan atau himpunan. Di dalamnya terhimpun ayat yang menjelaskan pelbagai perkara meliputi soal tauhid, ibadat, jinayat, muamalat, sains, teknologi dan sebagainya. Kalimah al-Quran, sering dicantumkan dengan rangkai kata ‘al-Quran mukjizat akhir zaman’ atau ‘al-Quran yang mempunyai mukjizat’. Malah inilah sebenarnya kelebihan al-Quran tidak ada satu perkara pun yang dicuaikan atau tertinggal di dalam al-Quran. Dengan lain perkataan segalanya terdapat di dalam al-Quran. Firman Allah:
"Dan tidak seekor pun binatang yang melata di bumi, dan tidak seekor pun burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka umat-umat seperti kamu. Tiada Kami tinggalkan sesuatu pun di dalam kitab Al-Quran ini; kemudian mereka semuanya akan dihimpunkan kepada Tuhan mereka (untuk dihisab dan menerima balasan)."
(Al-An’am:38)
al-Quran adalah hidayah, rahmat, syifa, nur, furqan dan pemberi penjelasan bagi manusia.. Segala isi kandungan al-Quran itu benar. Al-Quran juga dikenali sebagai Al-Nur bererti cahaya yang menerangi, al-Furqan bererti yang dapat membezakan di antara yang hak dan batil dan al-Zikr pula bermaksud yang memberi peringatan.

Dalam sejarah kehidupan Nabi SAW ayat al-Quran yang mula-mula diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibrail ialah lima ayat pertama daripada surah Al-‘Alaq. maksudnya:
”Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhan mu yang menciptakan (sekalian makhluk), Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku; Bacalah, dan Tuhan mu Yang Maha Pemurah, -Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, -Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(al-‘alaq:1-5)
Hubungan Lailatul Qadar dan Nuzul al-Quran

Lailatul Qadar pula ialah suatu malam pada bulan Ramadhan yang begitu istimewa sekali fadilatnya. Malam al-Qadar adalah suatu malam yang biasanya berlaku pada 10 akhir Ramadhan dan amalan pada malam itu lebih baik baik dari 1000 bulan.

Apakah kaitannya malam al-Qadar dengan nuzul al-Quran? Sebenarnya al-Quran dan malam Lailatulqadar mempunyai hubungan yang rapat antara satu sama lain sebagaimana yang diterangkan di dalam kitab Allah dan hadis Rasulullah SAW di antaranya firman Allah SWT yang bermaksud:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) ini pada Malam Lailatul-Qadar, Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui apa dia kebesaran Malam Lailatul-Qadar itu? Malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan. Pada Malam itu, turun malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun yang berikut); Sejahteralah Malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar!"
(al-Qadar:1-5)

Mengikut satu pandangan, ayat ini diturunkan berdasarkan satu riwayat dari Ali bin Aurah, pada satu hari Rasulullah SAW telah menyebut 4 orang Bani Israel yang telah beribadah kepada Allah selama 80 tahun. Mereka sedikit pun tidak derhaka kepada Allah, lalu para sahabat kagum dengan perbuatan mereka itu. Jibril datang memberitahu kepada Rasulullah SAW menyatakan bahawa Allah SWT menurunkan yang lebih baik dari amalan mereka. Jibril pun membaca surah al-Qadar dan Jibril berkata kepada Rasulullah ayat ini lebih baik daripada apa yang engkau kagumkan ini menjadikan Rasulullah SAW dan para sahabat amat gembira.

Dalam hadis yang lain Aishah juga meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW bersabda bersedialah dengan bersungguh-sungguh untuk menemui malam Lailatul qadar pada malam-malam yang ganjil dalam 10 malam yang akhir daripada bulan Ramadhan.

Panduan

Dari maklumat serba sedikit di atas tadi sebenarnya banyak boleh dijadikan panduan kepada umat Islam seluruhnya. Antara panduan berkenaan ialah seperti:

1. Tidak ada perkara yang tidak terdapat dalam al-Quran
2. Ayat pertama diturunkan ialah ‘iqra’ iaitu ‘baca’ dan Tuhan mengajarkan manusia melalui perantaraan Pena dan Tulisan.
3. Kelemahan umat Nabi Muhammad beribadat maka dianugerahkan satu masa yang apabila kita mendapatkannya kita akan digandakan pahala melebihi seribu bulan.

Apabila disebutkan bahawa tidak ada perkara yang tidak terdapat di dalam al-Quran itu maka ianya memberikan makna bahawa segala ilmu pengetahuan yang merangkumi fardu ‘ain dan fardu kifayah dalam segenap aspek kehidupan merangkumi ekonomi, sosial, perundangan, pendidikan, sains dan teknologi dan lain-lain, segalanya terdapat dalam al-Quran. Tafsiran, kupasan analisa dan penyelidikan membolehkan umat Islam maju mendahului umat-umat lain di dunia ini.

Manakala penurunan al-Quran pula didahului dengan suatu kalimah ‘iqra’’ iaitu ‘baca’ di mana membaca adalah kunci kepada penerokaan ilmu. Selepas itu pula Allah mengiringi dengan ayat yang bermaksud; Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, -Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Keadaan ini menguatkan lagi bahawa pembacaan dan penulisan itu menjadi antara perkara yang paling penting dalam penguasaan ilmu pengetahuan. Di mana sebagaimana diketahui umum melalui satu ungkapan bahawa: “ilmu pengetahuan dan teknologi itu adalah kuasa”.

Perkara ketiga ialah hikmah dari anugerah malam al-qadar kepada umat Nabi Muhammad SAW sebagai umat akhir zaman. Mengetahui kelemahan umat Islam akhir zaman ini dalam beribadah maka dianugerahkan satu peluang di mana ibadah yang dilaksanakan pada malam itu digandakan sehingga 1000 bulan. Bermakna kiranya kita dapat melaksanakan ibadah dengan penuh keimanan di 10 akhir Ramadhan, kita akan berpeluang mendapat malam al-Qadar. Ini akan menjadikan kita seolah-olah beramal ibadah selama 1000 bulan iaitu sekitar 83 tahun. Menjadikan kita seolah-olahnya menghabiskan seluruh hidup kita dan usia kita dalam ibadah.

Bagi mencari malam-malam yang berkemungkinan sebagai malam al-qadar, maka kalangan ulama ada menyatakan bahawa, malam-malam yang ganjil yang tersebut ialah malam 21, 23, 25, 27 & 29 dari bulan Ramadhan. Dalam pada itu terdapat juga beberapa hadis yang menyatakan bahawa malam al-qadar itu pernah ditemui dalam zaman Rasulullah SAW pada malam 21 Ramadhan. Pernah juga ditemui pada malam 23 Ramadhan. Terdapat juga hadis yang mengatakan bahawa baginda Rasulullah SAW. menjawab pertanyaan seorang sahabat yang bertanya mengenai masa Lailatulqadar supaya ianya bersedia dan menghayatinya. Baginda menjelaskan malam Lailatulqadar itu adalah malam 27 Ramadhan. Dari keterangan-keterangan di atas dapatlah kita membuat kesimpulan bahawa malam Lailatulqadar itu berpindah dari satu tahun ke satu tahun yang lain di dalam lingkungan 10 malam yang akhir dari bulan Ramadhan. Yang pastinya bahawa masa berlakunya malam Lailatulqadar itu tetap dirahsiakan oleh Allah SWT supaya setiap

Kesimpulan
Sebagai kesimpulannya marilah kita sama-sama menghayati nuzul al-Quran ini sebagai suatu peristiwa besar yang penuh makna dan hikmah. Kita seharusnya melihat al-Quran itu sebagai ‘kitab induk’ panduan Ilmu pengetahuan untuk memajukan manusia seluruhnya. Memajukan manusia yang lebih penting adalah memajukan umat Islam terlebih dahulu melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Membaca al-Quran itu adalah suatu ibadah. Sekarang bolehlah kita panjangkan ‘membaca’ al-Quran itu kepada menganalisa, mengkaji, menyelidiki dan mencari rahsia ilmu pengetahuan di dalam al-Quran dan seterusnya menghasilkan penulisan-penulisan yang akhirnya memajukan dunia ini dan khasnya memajukan umat Islam dan seterusnya mengeluarkan umat Islam dari belenggu kelemahan dan penghinaan.


sumber dari: alkhudhri.com

Antara Lima Kelebihan Ramadhan






Daripada Abu Hurairah r.a., Rasulullah s.a.w. telah bersabda, "Umatku telah diberikan dalam Ramadhan lima perkara yang belum bernah diberikan kepada mana-mana umat pun sebelum mereka."

1. Bau busuk mulut orang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi.

2. Ikan-ikan di laut akan beristigfar untuk mereka sehingga mereka berbuka.

3. Setiap hari Allah s.w.t. akan menghiaskan syurgaNya dan berkata, "Telah hampir masanya hamba-hambaKu yang soleh akan dilepaskan dari beban-beban dan mereka akan datang kepadamu."

4. Dirantaikan syaitan-syaitan yang jahat di dalam Ramadhan dan mereka tidak akan dapat berbuat sesuatu dalam Ramadhan ini apa yang biasa mereka lakukan pada bulan lain.

5. Mereka akan diampunkan pada malam terakhir Ramadhan.  Ditanya kepada Rasulullah, "Adakah ia lailatur Qadar?" Baginda menjawab, "Tidak! Tetapi seorang pekerja yang diberikan ganjarannya apabila telah selesai kerjanya."



sumber dari: ahmad-sanusi-husain.com

Menghayati Peristiwa Nuzul Al-Quran






Peristiwa Nuzul al-Quran adalah antara perkara penting yang harus diingat dan direnung Muslim kerana bermula dengan peristiwa itu zaman jahiliah (kegelapan) telah disinari cahaya, kesesatan digantikan kebenaran dan umat yang hidup bertuhankan hawa nafsu berubah bertuhankan Allah Yang Esa.
Peristiwa Nuzul al-Quran berlaku pada malam Jumaat, 17 Ramadan, tahun ke-41 daripada keputeraan Nabi Muhammad SAW perlu diingati dengan penuh keinsafan oleh umat Islam. Al-Quran mengandungi 6,236 ayat adalah himpunan wahyu dan kitab panduan terakhir daripada Allah, diturunkan secara beransur-ansur selama 23 tahun kepada Rasul-Nya, Muhamad s.a.w supaya menjadi petunjuk kepada seluruh umat.
Waktu penurunan al-Quran adalah mengikut perancangan dan ketentuan Ilahi. Sesuai dengan kitab itu yang sungguh mulia, Allah juga memilih penghulu segala bulan yang terkenal dengan bulan keampunan, rahmat dan keberkatan iaitu Ramadan untuk menurunkannya. Firman Allah bermaksud:
“Ramadan adalah bulan diturunkan al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan daripada pembeza (antara yang hak dan batil).” (Surah al-Baqarah, ayat 185)
Perlu kita ketahui juga, Nabi s.a.w menerima wahyu daripada Allah SWT dalam pelbagai cara dan keadaan antaranya ialah :
1. Malaikat memasukkan wahyu ke dalam hatinya. Dalam hal ini, Nabi Muhammad s.a.w tidak melihat sesuatu pun, hanya berasa ia sudah berada dalam kalbunya.
2. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi s.a.w berupa lelaki yang berkata kepadanya sehingga beliau mengetahui dan hafal kata-kata itu.
3. Wahyu datang seperti gemerincingnya loceng. Cara inilah yang amat berat dirasakan Nabi SAW. Kadangkala pada keningnya keluar peluh walaupun ketika itu musim sejuk. Ada kalanya, unta yang Baginda tunggangi terpaksa berhenti dan duduk kerana berasa amat berat apabila wahyu itu turun. Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi s.a.w dalam rupanya yang asli.
Selain itu, kenapa Allah SWT turunkan al-Quran secara beransur-ansur? Sudah tentu menpunyai hikmah-hikmahnya tersendiri. Antara hikmah al-Quran diturunkan secara beransur-ansur itu ialah :
  • Lebih mudah difahami dan dilaksanakan. Orang tidak akan melaksanakan suruhan dan larangan jika diturunkan sekali gus dengan banyak.
  • Antara ayat itu ada yang nasikh (hukum yang diubah) dan mansukh (hukum yang dibatalkan/dimansuhkan), sesuai dengan permasalahan waktu itu. Ini tidak dilakukan jika al-Quran diturunkan sekali gus. (Ini menurut pendapat yang mengatakan ada nasikh dan mansukh)
  • Turun ayat sesuai dengan peristiwa yang berlaku lebih mengesankan dan berpengaruh di hati.
  • Memudahkan penghafalan. Orang Musyrik bertanya mengapakah al-Quran tidak diturunkan sekali gus seperti disebut dalam al-Quran yang bermaksud: “Mengapakah al-Quran tidak diturunkan kepadanya sekali gus? Dijawab dalam ayat itu sendiri: Demikianlah, dengan (cara) begitu Kami hendak menetapkan hatimu.” (Surah al-Furqan, ayat 32)
  • Ada antara ayat itu jawapan daripada pertanyaan atau penolakan suatu pendapat atau perbuatan seperti dikatakan Ibnu Abbas. Hal ini tidak dapat terlaksana jika al-Quran diturunkan sekali gus.
Sehubungan itu, peristiwa Nuzul al-Quran harus dihayati umat Islam kerana ia menjadi asas keimanan terhadap al-Quran bahawa ia adalah kalam Allah. Bahkan, ia dilihat asas utama dalam pengakuan umat Islam terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW serta keyakinan Islam itu agama benar, satu-satunya agama yang diredai di sisi Allah.


sumber dari: ahmad-sanusi-husain.com