Dengan nama ALLAH, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan mereka pula berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan sabar. [Surah Al-'Asr Ayat 1-3]
Chaozhou awarded as “The Porcelain Capital of China” is situated in eastern Guangdong province. The Great Wall Group Co., Ltd. was established in early 1996, specializing in the study, development, manufacture and management of various types of hi-tech porcelain products. It is not only one of the biggest porcelain manufacturers in China, but also one of the first companies that have been granted self-management import-export rights.
China is not the only country in history that has built a wall on its boundary. Athens, Rome, Denmark and Korea also did the same in the past. The Hadrian’s Wall in Northern England was also built to separate the Romans from barbarians. All were built for the purpose of defending their country against its invaders. The China Wall was no exception to this.
The Great Wall of China was first built in the 7th century, B.C. Before 221 B.C., three Chinese states in the North of China, called Qi, Yan and Zhao, constructed their own fortifications to defend their borders. However, in 221 B.C. the Qin Shi Huang who the first emperor of Qin dynasty, unified China, and linked the walls of the three states. He formed the first ‘Wan Li Chang Cheng’, Wall of China. This wall was 10,000 Li in length (2Li=1km.). Later, Emperor Han of West Han dynasty (206 B.C. to 25 A.D.) extended the Great Wall to 10000 km. Sui of Sui dynasty (581-618 A.D.) also built the Great Wall. Since then, the Great Wall was rebuilt, modified and extended for about 2000 years. Most of the Great Wall of China was built in the Ming dynasty (1368-1644), where it was extended by about 6000 km.
Some of the functions of the Great Wall also considered as being reasons for its existence are:
1. The Great Wall was not just a wall, but many forts; beacon towers were built along the wall to house soldiers, and store grain and weapons, and it was used to transmit military information.
2. As it was built out of clashes between agricultural and nomadic economies, it served as protection to the economic development and cultural progress.
3. It safeguarded the trading routes, and secured the transmission of information and transportation.
4. A few parts of the Great Wall have become a tourist attraction, which was not really the intended function for it.
The primary purpose of building the Great Wall of China was always to protect the Chinese Empire from the Mongolians, and other invaders.
Pemandangan Tembok Besar China di Simatai, Beijing, China, beberapa waktu lalu. Tembok besar di Simatai yang dibangun pada Dinasti Ming tersebut membelah bukit gurun. Tembok raksasa di timur ini memiliki panjang total sekitar 6.700 kilometer, yang dibangun mengikuti kontur alam untuk membentengi China dari serangan musuh. Tembok besar di Simatai ini merupakan salah satu dari empat sektor tembok yang dibuka untuk wisatawan selain Bataling, Juyongguan, dan Mutianyu.
Survei arkeologi terbaru menyebutkan The Great Wall atau Tembok China ternyata memiliki panjang dua kali lipat lebih dari perkiraan sebelumnya. Survei yang dirilis oleh The State Administration of Cultural Heritage (SACH) atau Badan Administrasi Negara urusan Peninggalan Budaya China merupakan survei arkeologi pertama yang dilakukan terhadap ikon purba yang juga sebagai benteng pertahanan ini.
Survei dimulai sejak tahun 2007 dengan melakukan pemetaan terhadap setiap jejak dinding di 15 provinsi di China. Terungkap bahwa dinding Tembok China memiliki panjang 13,170.6956 mil atau 21,196.18 kilometer. Sementara studi sebelumnya yang dirilis pada tahun 2009 menunjukkan panjang tembok ini hanya 5.500 mil atau 8.850 kilometer mengular ke seluruh penjuru negeri.
Survei ini menyimpulkan jika ternyata Tembok China memiliki panjang dua kali lipat lebih dari perkiraan studi sebelumnya. Survei terbaru juga mengungkapakan terdapat sekitar 43.721 situs warisan yang teridentifikasi pada tembok raksasa ini.
Tembok China menjadi magnet bagi para wisatawan dari seluruh dunia untuk datang ke Negeri Tirai Bambu. Masyarakat China menyebut tembok ini dengan sebutan Tembok Raksasa 10.000 Li (Wànlĭ Chángchéng) dan merupakan tembok terpanjang di dunia yang dibuat oleh manusia. Tembok tersusun dari tumpuk-tumpukan batu yang kontruksinya dilakukan pada abad ke-7 sebelum Masehi.
Bangunan yang juga berfungsi sebagai benteng pertahanan ini rampung pada masa pemerintahan Kaisar Qin Shi Huang. Sejak saat itu beberapa bagian dinding mendapatkan renovasi dan sebagian besar bagunan direnovasi pada masa Dinasti Ming (1368-1644).
Saat ini, Tembok China terdaftar sebagai warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO sejak tahun 1987. Saat ini sebagian besar dinding telah mengalami kerusakan berat dan runtuh akibat ulah tangan jahil para wisatawan saat mengunjugi ke tembok ini. "Penyelamatan dan pelestarian Tembok Besar China tidak boleh ditunda," tulis The State Administration of Cultural Heritage (SACH) dalam laporannya.
Kantor berita Xinhua melaporkan, pada tahun 2015, SACH berencana menyusun aturan khusus untuk melindungi Tembok China. Dengan mendirikan sistem pemantau untuk menjamin pelestarian warisan budaya secara efektif dikelola negara.
Terutama di propinsi Gansu, tembok besar ini sudah mulai hancur rata padahal area yang rata itu sepanjang 25 mil. Dan tembok besar ini dulunya berdiri kokoh setinggi 20 kaki, sekarang sudah ambles hingga tersisa tidak lebih tinggi dari 7 kaki saja.
Dengan menggunakan bantuan dari Google Earth, sebuah ekspedisi Internasional akhirnya telah berhasil menemukan dan mendokumentasikan sebuah dinding kuno yang diduga sebagai salah satu bagian yang hilang dari Tembok Besar China. Lokasi penemuan dinding ini terletak di bagian selatan perbatasan Mongolia.
Menurut penemuan yang dipublikasikan di Majalah National Geographic edisi maret yang ditulis dalam bahasa China, bahwa Tembok Besar di bangun oleh pemerintah China sebagai penghalau untuk mengusir penjajah mongol yang datang dari Bagian Utara.
Menurut William Lindesay seorang peneliti sekaligus pemimpin ekspedisi ini, tembok ini memiliki ketinggian sekitar 2,75 meter, dan dikenal dengan tembok Genghis Khan.Tapi setelah diteliti lagi oleh tim ditemukan fakta bahwa dinding itu bukanlah hasil karya dari Genghis Khan ataupun keturunanya, melainkan dinding tersebut merupakan bagian yang hilang dari Tembok Besar China.
Pada saat tim mencari petunjuk topografi melalui citra satelit Google earth tentang dinding tersebut tim menemukan bagian dari dinding yang terbuat dari bahan lumpur basah, Saxaul (Kayu dari semak-semak gurun), serta balok batu dari bebatuan vulkanik.Secara tidak sengaja tim ekspedisi juga menemukan fosil tembikar, sampah. Di sini tim peneliti tidak menemukan koin, atau senjata, di dinding ini tim juga tidak menemukan satupun bangunan menara pengawas yang berfungsi sebagai bagian pertahanan, seperti yang terdapat di tembok besar China.
Weatherford, seorang antropolog dari Minnesotta setuju dengan kesimpulan dari Lindesay, bahwa sisa-sisa dinding yang ditemukan merupakan bangunan China.
There are more than 10,000 watchtowers and beacon towers on the Great Wall.
They were used to house troops, store weapons and send signals in case enemies were seen approaching. Smoke signals were used in the day and fires were lit at night to communicate with other military outposts along the wall.
Namun rupanya, tak sepenuhnya bagian Laolongtou adalah bangunan asli. Mengutip situs Amusing Planet pada Rabu (18/7/2012), pada Juli 1905 tentara Jepang mendarat di Shanhai Pass. Mereka membombardir area itu, menghancurkan beberapa sisi tembok ini. Apa yang berdiri sekarang adalah upaya pemerintah China untuk membuat replika dari bangunan aslinya.
Laolongtou dibagi menjadi tujuh bagian yaitu Estuary Stone City, Menara Chenghai, Nereus Temple, Jinglu Beacon Tower, Nanhaikou Pass, Ningchai City, dan Binhai Walls. Dua tempat favorit wisatawan adalah Changtai Tower dan Nereus Temple yang bertengger di atasnya.
Mungkin ada di antara kita pernah berkunjung ke sebuah kawasan yang diiktiraf antara 7 perkara ajaib di dunia iaitu Tembok Besar China. KisahBest.My difahamkan oleh pengunjung di sana itu iaitu Encik Billy. Ia memaklumkan bahawa rupa-rupanya terdapat Tembok Besar China palsu yang dibina bagi mengelirukan pelancong. Ekoran dari itu, anda hendaklah berhati-hatilah jika ada yang menawarkan pakej tour terlalu murah, mungkin anda akan dibawa ke tembok besar palsu ini!
Ia dikenali sebagai Shanzhai Great Wall, terletak di Chengdu. Tembok Besar palsu (juga dikenali sebagai “mini”, “replika”, dan “Jin Long,” Great Wall) telah dibina pada tahun 2002 dan kelihatan seperti tembok besar sebenar.
Membicarakan reruntuhan terbaik dunia, tentunya tidak boleh lupa dengan Piramida Giza, satu-satunya keajaiban dunia yang masih ada di dunia.
Piramida Agung Giza adalah piramida tertua dan terbesar dari tiga piramida yang ada di Nekropolis Giza dan merupakan satu-satunya bangunan yang masih menjadi bagian dari Tujuh Keajaiban Dunia.
Piramida Agung Giza adalah bagian utama dari kompleks bangunan makam yang terdiri dari dua kuil untuk menghormati Khufu (satu dekat dengan piramida dan satunya lagi di dekat Sungail Nil), tiga piramida yang lebih kecil untuk istri Khufu, dan sebuah piramida "satelit" yang lebih kecil lagi, berupa lintasan yang ditinggikan, dan makam-makam mastaba berukuran kecil di sekeliling piramida para bangsawan.
Beberapa ratus meter di barat daya Piramida Agung terdapat sebuah piramida yang sedikit lebih kecil, Piramida Khafre, salah satu penerus Khufu yang juga dianggap sebagai pembangun Sphinx Agung. Sementara, beberapa meter lebih jauh ke barat daya adalah Piramida Menkaure, penerus Khafre, yang ketinggian piramidanya sekitar separuhnya.
Di antara piramida ini terdapat dua piramida besar lain yang dibangun selama 80 tahun, lalu ada juga Sphinz, beberapa makam, dan reruntuhan pedesaan kuno Mesir.
Tembok Besar China merupakan bangunan terpanjang yang pernah dibuat manusia, terletak di Republik Rakyat Cina. Pada 1987, bangunan ini dimasukkan dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.
Tembok Besar Cina tidak panjang terus-menerus, tapi merupakan kumpulan tembok-tembok pendek yang mengikuti bentuk pegunungan China utara. Tembok ini secara total memiliki panjang 8.851 kilometer.
Tembok Besar China disebut-sebut sebagai salah satu bangunan buatan manusia yang terlihat dari ruang angkasa dengan mata telanjang. Namun, setelah dilakukan investigasi oleh para astronot, persepsi tersebut tidak benar.
Dari orbit yang rendah, bangunan buatan manusia, seperti jalan, kapal laut, kota dan lain-lain memang dapat terlihat. Namun, pada saat melewati orbit Bumi dengan tinggi puluhan ribu kaki, tak satu pun benda di permukaan Bumi yang dapat terlihat, termasuk Tembok Besar China.
BELUM ke China kalau belum mengunjungi Tembok Besar China, atraksi wisata terpopuler negara ini. Sesuai namanya, Tembok Besar China sangat besar dan panjang sehingga tak mungkin bagi wisatawan untuk menjelajahinya. Tembok Besar China memiliki panjang 8.851 kilometer. Siapapun tak mungkin menjelajahinya secara keseluruhan. Namun, bila Anda harus memilih bagian mana dari Tembok Besar China yang akan dijelajahi, maka pilihlah Jiankou.
Bagi pencinta fotografi, tidak ada tempat yang lebih baik di Tembok Besar China daripada Tembok Jiankou. Jiankou cukup sulit untuk dicapai, namun memiliki pemandangan yang dramatis. Jiankou terletak 73 kilometer sebelah utara Beijing, dan dibangun pada masa Dinasti Ming. Tembok ini terbuat dari tumpukan batu putih yang dapat dilihat dari kejauhan. Bentuk Jiankou sejak dibangun hingga sekarang tidak banyak berubah, dan karena untuk mencapainya perlu melewati medan cukup berat, tembok ini cocok bagi petualang yang berpengalaman. Lokasi Jiankou berada di area pegunungan, dibatasi tebing-tebing tinggi dan curam. Hal ini membuat Jiankau cukup berbahaya untuk dicapai, seperti dilansir CNN, Selasa (29/1/2013).
Namun, susahnya mencapai Jiankou akan terbayar saat Anda melihat begitu dramatisnya pemandangan di sana. Salah satu bagian yang membuat pemandangan mempesona di Jiankou adalah menara pengamatan yang dikenal dengan nama “The Eagle Flies Facing Upward”. Menara ini sangat tinggi karena dibuat dari bagian tertinggi tembok Jiankou.
Tembok hujung ini dibina oleh panglima Dinasti Ming, Xu Da pada 1381. Kemudian, Qi Jiguang membina pusat pertahanan bertembok lengkap dengan tentera bersenjata. Tembok yang dijolok dengan gelaran ‘Old Dragon’s Head’ ini mengadap Laut Bohai di Lautan Pasifik. Ia terletak 300 kilometer daripada Beijing.